Sajak-sajak Vito Prasetyo

oleh -99 views
Sumber Ilustrasi: www.estudoratico.com.br

VITO PRASETYO. Lahir di Makassar, 24 Februari 1964. Berdomisili di Malang, Jawa Timur. Pernah kuliah di IKIP Makassar. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983. Naskah opini dan sastra (cerpen, puisi, esai), artikel pendidikan dan bahasa telah dimuat di media cetak lokal dan nasional. Buku Puisinya berjudul Jejak Kenangan (2015), Tinta Langit (2015), 2 September (2015), Jurnal SM II (2015), Keindahan Alam (2017), Ibu (2017), Tanah Bandungan (2018). Karyanya juga termaktub dalam Buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017), Biarkanlah Langit Berbicara (2017) dan Sajak Kematian (2017).

Labuhan Bajo

: Labuhan Bajo
ombak diam, riak bisu
tak ada angin, mungkin mati
setahun lalu sajakku kandas
dermaga pun menangisi dan menjadi saksi bisu
ada cerita tersisa dari perjalanan itu
aku ingat gerimis menghapus jejakku
engkau menatap kepergianku di balik punggungku
kulihat langit penuh kabut
perasaanku menyatu jadi kelabu
seakan itu duka di atas puing batu berdiri kokoh
di atas bekas jejak kakiku
lalu kutulis sebuah puisi untukmu pada tidurmu

Kini setahun waktu menerangkan
dari satu tempat ke tempat lain
beberapa dermaga tua telah menjadi tulang-belulang
sebagian biduk pun telah menjadi bangkai
entah mengapa jejak langkahku tak pernah bosan
berkelana melintasi ribuan ombak
di Bakauheni, aku menulis puisi
di Belawan, aku menulis puisi
di Merak, aku menulis puisi
di Gilimanuk, aku menulis puisi
di Labuhansumbawa, aku juga menulis puisi
entah di mana lagi aku tak ingat
sajakku berlabuh tanpa perasaan asmara
semuanya beraroma kopi, minuman kesukaanku

Saat langit mendung berawan
kukenang semua perjalanan itu
tapi, di Labuhan Bajo seseorang telah menikam sajakku
semua aksara terkoyak, terbuai asmara
hingga semua perjalananku seakan terasa sia-sia
bait-baitku kandas dalam pelukan seorang gadis
terkesima sebuah dermaga kecil
dan mimpiku ingin kuwujudkan dalam kenyataan
bagai ombak yang senantiasa mencumbu bibir dermaga itu
lalu kujaring kepingan bait-bait sajakku
walau harus menyelam sampai ke dasar laut
seperti anak-anak kecil Labuhan Bajo bertelanjang dada
di sudut-sudut dermaga

(2019)

Laut

bukan karena kerinduan ini telah pupus
adalah ombak menghanyutkan tubuh puisiku

tubuhmu pun melumat pasir putih
kakimu terjuntai ditumbuhi terumbu karang
di kejauhan pandang melintas cakrawala biru

aku terkesima heran
tiba-tiba dirimu hadir dalam tidurku
sebelum subuh membangunkanku
menulis sajak di telapak tanganku
tentang sesuatu yang tak pernah aku bayangkan
tentang surga kecil negeri ini—itu kata orang

kelopakmu bagai mentari tipis
duduk membenamkan permata
hinggap pada sisa mimpiku
pada tiris langit memecah bisu
entah, apakah biduk usang masih sanggup mengayuh
tubuhku sudah terlalu sarat dipenuhi sajak

hanya bisu dan diam
ketika pikiranku terkapar
tak pernah sanggup menggapaimu
—dan sajak baru telah memenuhi lautku

(Malang, 2019)

Ingin Kukatakan Te Amo

ingin kumatikan rasa cintaku padamu
meski dengan caraku yang salah
adalah Rumi dan Gibran
yang mengajarkan cinta sejati
hanya pada cawan sajak
Pablo Neruda pun datang menghampiri
dan berkata
– Te Amo

(Malang, 2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.