Sajak-sajak Kunni Masrohanti

oleh -174 views

KUNNI MASROHANTI. Lahir di Bandar Sungai, Siak Sri Indrapura, Riau, 11 april 1974. Karya puisinya termaktub dalam puluhan antologi baik Indonesia maupun mancanegara. Puisi tunggalnya berjudul Sunting (2011), Perempuan Bulan (2016), Calung Penyukat (2019). Ia juga menulis buku budaya, sejarah dan naskah drama seperti: Harmoniasi Masyarakat Rimbang Baling dan Alam (2018), Cipang Warisan Leluhur yang (Hilang) Nyata (2019), Sejarah Singkat Kerajaan Gunung Sahilan (2018), Sri Karma (2000), Sauni (2015), Nur Bakau (2016), Kunci (2017). Mengikuti berbagai pertemuan sastra di Indonesia dan luar negara. Peraih Anugerah Sagang 2011 (kategori buku puisi berjudul Sunting). Penerima Anugerah Pemangku Seni Tradisional dari Gubernur Riau (2014). Penerima Anugerah Baiduri dari PRBF Fondation 2013 (kategori sastrawati). Pendiri dan Pembina Komunitas Seni Rumah Sunting (2012). Ia juga penggerak perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Riau (2012-sekarang), Literasi Puisi Konservasi kerjasama dengan WWF Indonesia (2018-2019). Selain itu, ia Ketua Wanita Penulis Indonesia Riau (2018-sekarang), Ketua Penyair Perempuan Indonesia (2018-sekarang). Kini berdomisili di Pekanbaru, Riau.

sebab alif ya jantungku kepada bonjol

takkan aku menyerah pada bujukanmu elout
sebab aku mencintai bonjol dengan jantungku

andai ada yang lebih langit, tinggikan padaku
sebab aku akan mendakinya untuk bonjol
jika ada yang lebih bumi, rendahkan untukku
sebab aku akan merayapinya untuk bonjol
jika ada yang lebih darah, merahkan tubuhku
aku akan menyungaikannya untuk tetap sampai ke bonjol
jika ada yang lebih dari bonjol, tunjukkan padaku
biar aku hidup dan mati berulang
sebelum bertandang ke tanah seberang
aku menghulu, melawan deras arus sungai rokan
dalam bandang dan gelap yang mematikan
dalam julur lidah lembah, dalam kutuk sumpah serapah penjajah
sebab aku mencintaimu bonjol
seperti paderi mendekapku dalam kehangatan alif ya

andai ada yang lebih
kubonjolkan diriku dari dalu yang menjadi jantung lahirku
sebelum aku benar-benar mencintaimu,
Imamku

Pekanbaru, 2019

di sungai gagak hingga rao, padamu

tanah yang melekat hingga lututku
juga melekat di kakimu, lebih liat
hujan, banjir, basah sepanjang cipang, sedikit terang
padamu, lebih lintah
kau tak gamang
seperti kecilmu tak ragu membentang lengan
pacukan kuda yang garang

sepanjang jalan mati tengah rimba
sampai batas melintas sungai gagak hingga rao
nafasmu kau sunyikan
di tanah ini, aku juga kembali
bukan mencari rumah guru yang paderi
atau tempatmu uji berani paling nyali

de padrisce tiger van rokan
kau pimpin jua pasukan tak takut mati sepanjang dalu-dalu
lubuk sikaping, padang laweh, angkola hingga mandailing

panjang nafasmu, lantang
menyeruak, menyusup gelap seluruh lembah dan ngarai
bersuakah kita di pasaman malam ini
bersama tuanku imam
yang di tubuhku ia menjadi detak paling degup

datanglah tuanku
sedu air mataku yang sungguh rindu

Pasaman-Pekanbaru, 2017-2018

ambun yang pulang

ini aku
pulang dengan jenggot, jubah dan pedang
tuanku imam yang lama tak pulang
ia titipkan untukmu agar di tanah bundo aku bertemu saudara sesuku, seayah meski tak sesusu

ini aku
pulang mencari hulu sungai darah yang mengalir dalam tubuhku
aku ambun
anak tuanku yang kau rindu
aku ambun
jalan panjang untuk tuanku kembali pulang

Pasaman, 2018

hujan di rumah malin

tanpa hujan aku sudah senang
apalagi saat melihat kau datang berkuda, berhenti di halaman lalu menaiki jenjang rumah

assalamualaikum katamu
apa yang kau fikirkan malin
tiba-tiba langkahmu terhenti
wajahmu muram
biarlah dinding rumah ini berlubang dimakan rayap
biarlah atapnya yang hitam dan berkarat lepas sebagian
biarlah dinding palupuah makin lapuk dan renggang

ke rumahmu saja aku senang
apalagi dengan hujan yang kau bawa serta
sebagai pertanda kau akan kembali pulang
tapi bukan untuk pergi
tak ada lagi yang membuatmu bimbang
dan kau tiba-tiba kembali dengan senyuman ke tengah halaman, naik kuda dan pergi untuk selalu pulang setiap menjelang ramadan

assalamualaikum katamu
kau menghilang, aku masih di halaman
tapal kuda di atas pintu sengaja tak kaubawa serta
hujan tadi, kaupun lupa menyuruhnya berhenti
hingga mengurat ke ujung nadi

Pasaman, 2018

datang ke rumahmu petang ini

tuanku, karena janji aku datang ke tanahmu

salam alaik tuanku
salam alaik imam kami
sepanjang malam kularungkan mau menempuh gelap, jalan berliku, memenuhi panggilanmu
telah kaupanggil aku imam
adakah kau dengar kesiap langkahku seperti derap langkahmu yang menjadi denting-denting gambus di telingaku

salam alaik muhammad syahab
salam alaik peto syarif
salam alaik malin basa
seribu julukan yang diberikan padamu selalu bermakna bunga dalam jantungku
harum merentas di sekujur Indonesiaku yang tak pernah layu.
sejauh mana langkah kauayun,
di tanah bonjol, jawa, ambon manise atau di mana pun jejakmu, selalu berwarna api dalam dagingku, didihkan semangat membangun negeri yang kito cinto
jauh di tanah pengasingan letto, pineleng sekalipun jasadmu, tak pernah hilang di mataku
padamu tuanku imam
darah saudaramu, padri dan kaum adat, menetes di matamu, menjadi belati dalam jiwamu
mengalir deras, hangat di sekujur tubuhku
aku menggigil mengenang pedih batinmu

tuanku imam
dengan setanggi mantra nan ranggi aku datang ke tanahmu karena janji
aku bukan pengkhianat
aku bukan pengkhianat
takkan pernah jadi pengkhianat
sebab kau tuanku, kami tetap bermartabat dalam adat

Pasaman, 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.