Sejak Masa Lampau, Pariwisata Bukittinggi Hipnotis Pelancong Malaysia

oleh -105 views
Pensyarah Institut Antarbangsa Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) University Islam Antarbangsa, Malaysia, Prof. Dato’ Dr. Ahmad Murad Merican (kanan) tampil sebagai salah seorang narasumber Seminar dan Lokakarya Kearsipan “Bukittinggi dalam Sejarah Perjalanan Bangsa” yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi di hari kedua, Rabu (13/11), di Istana Negara Triarga Bukittinggi. (Foto: Iin Muhidin)

TRAVESIA.CO.ID – Pariwisata Kota Bukittinggi ‘menghipnotis’ pelancong Malaysia untuk berduyun-duyun datang menikmati keindahan kota bersejarah itu.

Faktor alam yang rancak, dikelilingi Bukit Barisan, Gunung Marapi dan Singgalang, Ngarai Sianok, Lubang Jepang, Kebun Binatang, juga adanya Jam Gadang yang mendunia menjadi daya tarik wisatawan Malaysia untuk datang. Tak ke Ranah Minang kalau belum ke Bukittinggi.

Pernyataan itu disampaikan Pensyarah Institut Antarbangsa Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) University Islam Antarbangsa, Malaysia, Prof. Dato’ Dr. Ahmad Murad Merican, ketika tampil sebagai salah seorang narasumber Seminar dan Lokakarya Kearsipan “Bukittinggi dalam Sejarah Perjalanan Bangsa” yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi di hari kedua, Rabu (13/11), di Istana Negara Triarga Bukittinggi.

Menguatkan argumennya itu, Ahmad Murad Marican membentang kertas kerja berjudul “Pariwisata Bukittinggi di Mata Pelancong Malaysia”.

Dia menyebut, Bukittinggi yang melegenda telah menjadi perbincangan banyak penduduk Malaysia yang secara garis keturunan juga sebagian terhubung ke Minangkabau, khususnya Bukittinggi.

Pengarang-pengarang Malaysia juga banyak menulis buku tentang Bukittinggi, salah seorangnya Abdul Aziz Ishak yang menulis buku “Mencari Bako” (1983).

Buku itu ditulis Ishak karena kebanggaannya sebagai keturunan Minang meski ia ‘tak benar-benar’ orang Minang sebab konon ia merupakan generasi kelima keturunan Datuk Jannaton, anggota keluarga Kerajaan Pagaruyung yang meneroka Pulau Pinang di awal abad ke-18.

“Buku ini meguatkan kita betapa beliau cukup bangga sebagai orang yang bernenek Moyang ke Minangkabau,” ujar Ahmad Murad Merican.

Di beberapa bagian buku itu, jelas Ahmad Murad Merican, Ishak menulis reportasenya pada keindahan Kota Bukittinggi. Pada halaman 68 buku “Mencari Bako”, tersurat kalimat: “Kami tinggal di Hotel Denai yang terletak di tengah-tengah kota. Hotelnya bentuk colonial yang dipunyai oleh orang Belanda yang dibantu oleh penduduk setempat.”

Sementara di halaman 70, sebut Ahmad Murad Merican, ditulis juga: “Pada hari kedua berada di Bukittinggi, kami mengambil kesempatan penuh untuk menjelajah segenap pelosok kota. Kebanyakan perantau yang pernah pulang ke Bukittinggi, Thahar, Yusof Ar Rawi, bekas Duta Malaysia ke Iran dan sekarang menjadi Yang Dipertuan PAS, Dahari Ali, bekas Editor New Straits Times, antaranya selalunya menceritakan kegemilangannya dengan penuh rasa nostalgia…”

Ahmad Murad Merican tampil sebagai narasumber di sesi kedua di seminar itu. Sementara di sesi pertama, tampil Prof. Ir. Haryo Winarso, M.Eng., Ph.D. dan Ira Safitri yang keduanya dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kedua narasumber berbicara tentang ‘Bukittinggi Sebuah Catatan Perkembangan Kota’ yang dilihat dari aspek sejarah sebagai penunjang pembangunan kota dan pariwisata. (han/iin muhidin/travesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.