Beysa dan Sebuah Taman Menuju Cahaya

oleh -192 views
Sumber ilustrasi: lenach.com.br

Cerpen Indriani Septiani

SUARA-SUARA itu silih berganti menjadi miang dan terngiang-ngiang di telinga Beysa. Mimpi yang sangat buruk.

“Dasar tidak tahu diri!”

“Tidak tahu berterima kasih!”

“Ternyata dia hanya ingin numpang tenar saja! Sialan!”

“Hei, kemari! Ayo, mendekat! Aku bersedia jadi teman yang akan membebaskanmu!”

“Dasar, tidak berguna!”

“Ih, paling dia cuma cari perhatian saja!”

Suara itu semakin ramai. Riuh rendah. Menuduh, menohok, menikam jantungnya.

Tiba-tiba….

“Aaaaaaa…!”

Gadis itu berteriak histeris lalu terbangun dari tidurnya. Peluh mengucur deras di sekujur tubuhnya.

Di kamar yang cahaya bohlamnya temaram itu, Beysa melonjak turun ranjang dan meraba-raba laci meja. Ia mengambil obat penenang lalu meminumnya. Setelah merasakan agak tenang, Beysa kembali teringat pada mimpi buruk yang baru dialaminya. Jantungnya berdebar kencang.

Sejurus kemudian, Beysa mulai dapat menguasai dirinya. Ia berusaha untuk memejamkan mata, lalu tidur kembali. Tidur-tidur ayam, meski akhirnya ia terlelap juga.

***

“Beysaaa!… Bangun! Pagi ini kau ada sesi pemotretan!”

Aiyla, cewek berambut sebahu itu, menerobos masuk ke kamar Beysa. Tanpa merasa bersalah, ia menarik selimut Beysa. Beysa menggeliat, menarik napas, lalu melepaskannya dengan berat. Ia tak terima dibangunkan dengan cara seperti itu, tapi ia beranjak juga, lalu berjalan lesu menuju kamar mandi.

“Jangan lama-lama ya, Bey!” suara Aiyla kembali terdengar, menerobos pintu kamar mandi. Kali ini lebih keras.

“Iya, iya…! Berisik amat sih!” Beysa pun membalas teriakan Ayla dengan nada kesal.

Setengah jam kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Beysa keluar, dan ia tampak segar sehabis mandi. Ia terlihat cantik. Sangat berbeda dari sebelumnya di saat ia bangun tidur dengan rambut acak-acakan.

“Cepat, Bey, siap-siap! Hari ini jadwal kau padat sekali,” seru Ayla lagi. Sang manager yang cerewat dan sigap itu terus saja mengingatkan Beysa. Jika tidak begitu, tentu Besya akan teledor dan dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik.

Ayla manajer yang baik. Paling teliti. Sedikit nyinyir. Itu dia lakukan semata untuk Beysa, dan dia hanya menjalankan tugas.

Lagi-lagi Beysa menarik napas.

“Ya, ya… Baiklah! Ayo kita berangkat!” seru Besya setelah ia benar-benar selesai mengenakan pakaian dan berdandan.

Ayla berlari-lari kecil mengejar Beysa. Ayla mengeluarkan mobil, menyopirinya sendiri, Beysa duduk di sebelahnya, lalu mereka keluar meninggalkan pekarangan apartemen yang mewah itu.

Di perjalanan menuju lokasi pemotretan, Ayla terus saja mengoceh tentang jadwal Beysa sebagai artis dengan segudang kesibukan itu.

“Siang nanti kau juga harus ke acara talkshow di StarTV, dan sore hingga malam kau di lokasi shooting lagi,” ucap Ayla.

Beysa pura-pura tak mendengar apa yang diucapkan Ayla. Dia fokus dengan gawai di tangannya.

“Ay, lihat ini, kenapa sih mereka selalu menghujat apa yang kulakukan?” Beysa menunjukkan gawainya kepada Ayla. Beysa tampak sedih.

Ayla sering membaca komentar haters di postingan Instagram Beysa. Gadis itu juga tak habis pikir kenapa ada saja orang syirik yang sukanya mengusik kehidupan orang lain.

Beysa artis yang tak luput dari puji dan caci maki para haters yang tak punya kerjaan. Ia sering di-bully. Keadaan itu bikin perasaan Beysa campuraduk: marah, kecewa, dan tentu juga sakit hati.

“Bey, itu sudah biasa kan bagi seorang artis? Kau tidak usah pusing memikirkannya,” Ayla mencoba menghibur Beysa. Ia tahu perasaan gadis itu.

Beysa masih terlihat sedih. Biar bagaimanapun ia merasa tidak nyaman diperlakukan demikian oleh para haters yang tak dikenalnya itu.

***

PUKUL satu dini hari, Beysa tiba di apartemennya. Dia sangat lelah. Sepekan terakhir ia mengejar banyak pekerjaan, yang semua itu membutuhkan kecepatan waktu dan juga profesionalitasnya sebagai artis.

Di kamar apartemennya, tak ada seorang pun yang bisa diajaknya bicara. Keluarganya jauh. Lelahnya bertambah karena hujatan tak reda dilontarkan haters padanya. Apa pun kegiatan yang ia share ke medsos selalu dikomentari orang secara negatif. Iri amat mereka.

Beysa butuh seseorang yang mau mendengar keluh-kesahnya. Tapi ia hanya sendiri. Kepada Ayla ia tak mungkin terlalu terbuka, meski Ayla manajernya. Ayla hanya sekadar tahu saja. Besya lebih senang menyendiri dan memendam perasaan.

Untuk masalah pribadi, Ayla juga tidak mau banyak turut campur. Ia menghargai privasi Beysa. Biasanya, setelah perkerjaan selesai, Ayla kembali ke rumahnya. Rumah Ayla tak jauh dari apartemen Beysa.

Malam itu, Beysa tidak langsung tidur. Dia mengambil gawainya. Mengotak-atik benda itu dengan tampang murung. Tak lama kemudian, Beysa meletakkan benda pintar itu, di sisi pembaringannya.

Suasana sesaat hening, hingga tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil-manggil namanya.

“Hei, Beysa! Beysa…!”

Beysa terkejut. Dia mencari-cari sumber suara itu. Seasaat, suasana hening kembali.

“Beysa! Beysa…!” bisik suara itu lagi.

Beysa mulai merasa takut. Siapa yang memanggil namanya di tengah malam buta?

“Siapa itu?” Beysa berusaha mencari tahu.

“Aku di sini. Di samping lemari,” jawab suara itu.

Beysa menolehkan wajah ke arah lemari. Tapi tak ada siapa pun di situ.

“Di mana? Aku tak melihat apa-apa. Siapa kau?”

“Jangan takut. Lihatlah ke bawah!” Suara itu terdengar lagi. Menyuruh Beysa menolehkan matanya ke arah kaki lemari.

“Tali? Aku hanya melihat seonggok tali. Hei, kau jangan permainkan aku. Siapa kau?” Beysa tampak marah, sekaligus cemas.

“Ya, aku tali yang kaubeli kemarin,” jawab suara itu meyakinkan Beysa. Besya ingat, tali itu ia beli untuk suatu keperluan namun belum ia gunakan.

Ha, Tali? Beysa tidak percaya jika suara itu bersumber dari seutas tali. Tali itu lumayan panjang. Bagaimana mungkin tali bisa bicara? Akal Beysa tak sampai ke sana.

Beysa bangkit dari tidurnya. Dia ingin lari keluar kamar. Sepertinya ia melihat sesosok hantu berwujud tali.

“Tunggu! Tunggu dulu! Jangan lari, Beysa!” cegah tali itu. Ada kekuatan yang seolah menahan langkah kakinya.

Beysa semakin ketakutan. Ia berhenti bergerak dan tak jadi keluar kamar. Refleks, ia meraba laci meja, mengambil obat penenang, dan ia menyangka itu hanya halusinasi saja.

“Beysa! Ke marilah! Angkat aku dari sini!” seru tali itu lagi.

Beysa mengucek-ucek kedua matanya. Benar, yang dilihatnya adalah seonggok tali tapi bisa berbicara kepadanya. Dan itu nyata, bukan halusinasi. Tali itu minta diangkat.

“Bey, jangan takut. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang indah. Kau lelah bukan? Aku ingin menghiburmu,” bujuk tali itu. Suaranya lemah lembut.

Beysa mulai tertarik dengan perkataan itu. Dia memang sedang butuh ketenangan, hiburan, juga teman. Dia ingat tali itu pernah hadir dalam mimpinya, memanggil-manggil namanya.

“Bagaimana kau tahu kalau aku butuh ketenangan?” tanya Beysa kemudian.

“Tentu saja, menjadi artis bukan seasyik yang dibayangkan banyak orang. Lihat isi gawaimu, penuh hujatan bukan?” kata tali itu lagi.

“Iya, kau benar sekali. Aku tak boleh pergi ke mana-mana dengan bebas. Apa yang aku lakukan selalu saja diperbincangkan dan dikomentari. Aku dihujat dengan kata-kata tak pantas. Apa salahku? Kenapa orang-orang itu memperlakukan aku seperti ini?” Beysa murung. Wajahnya terlihat sangat sedih.

Beysa pun mulai akrab dengan tali itu. Rasa takutnya hilang.

“Aku merasa terbebani. Mereka jahat!” lanjut Beysa. Ia mulai depresi.

“Iya, karena alasan itu aku datang ke sini, mengajakmu bermain, bersenang-senang, agar kau terbebas dari semua impitan beban itu.”

“Oh, benarkah? Bagaimana kau dapat melakukannya?” Wajah Beysa berbinar.

“Iya, sebelum itu, angkat aku dari sini, nanti kuceritakan,” pinta tali itu.

Beysa beranjak mengangkat tali itu dengan kedua tangannya, lalu meletakkannya ke atas ranjangnya.

“Baiklah, jadi bagaimana cara kau membantuku agar aku terbebas dari semua ini?” tanya Beysa. Ia tak sabar.

“Oke, tapi sebelum itu kau harus menuruti perintahku dan tidak boleh protes. Kau setuju?”

“Hmm… Baiklah. Aku setuju.”

Meski rada aneh, tapi Beysa menyetujui permintaan tali itu. Ia benar-benar ingin tenang, ingin terbebas dari semua kehidupan yang mengekang.

“Ikatlah aku di langit-langit kamarmu, Bey,” pinta tali itu tiba-tiba.

Sejenak Beysa terdiam. Ia tak paham. Untuk apa tali itu harus diikat di langit-langit kamarnya? Bagaimana cara ia mengikatnya sementara langit-langit kamar itu lumayan tinggi dari tubuhnya?

Tapi, Beysa tetap menuruti permintaan tali itu. Ia seperti dihipnotis.

Ia geser meja dan meletakkan sebuah kursi di atasnya. Ia panjati meja dan kursi itu. Tangannya cukup menjangkau langit-langit kamarnya. Dan, tak lama kemudian, tali itu sudah terikat kuat di sana.

“Terima kasih. Posisiku sudah sangat nyaman. Kau baik sekali,” ujar tali itu.

“Ya, lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Beysa lagi. Ia masih terlihat bingung.

“Sini, peluk aku. Dan kita akan terbang ke tempat yang indah,” ajak tali itu.

“Bagaimana caranya?”

“Kau bisa melilitkan aku ke lehermu.”

Deg! Besya terkejut bukan main.

“Apa? Kau minta aku bunuh diri? Kau gila?” protes Besya. Suaranya meninggi. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.

“Tidak. Aku hanya ingin memelukmu. Memberi kedamaian, agar kau terlepas dari semua beban,” sela tali itu membela diri.

“Itu tak masuk akal. Aku belum mau mati,” kata Beysa lagi.

“Bukankah tadi kau sudah berjanji untuk tidak protes?”

Beysa terdiam.

“Ayolah, sini. Tempat yang damai itu sudah menunggu kita…,” bujuk tali itu lagi. Kali ini suaranya agak sedikit memelas.

Beysa seolah kehilangan kesadarannya. Semua beban hidupnya mengawang-awang di kelopak matanya. Sementara di langit-langit kamar, ia melihat sebuah pintu bercahaya, dan nun di dalamnya banyak anak tangga yang tak berujung tapi sungguh indah.

“Bey, ayolah…,” Suara tali itu lagi.

Seperti ada kekuatan gaib, Beysa meraih tali itu. Ia menaiki meja lalu mengikatkan tali itu ke lehernya. Ia merasakan sesuatu yang hangat, damai sekali.

Malam mendekati subuh, dan Beysa masih berbicara dengan tali itu. Membicarakan keluarganya, kehidupannya, karirnya, juga masa depannya. Ia lahir dari keluarga brokenhome, kedua orangnya pebisnis, sangat sibuk, dan tak pernah punya waktu untuknya. Ia sering menghabiskan waktu di luar rumah, hingga akhirnya ia memilih jalan kehidupan sebagai seorang artis yang ia rintis dari jalur modelling. Ia akrab dengan kehidupan gemerlap.

Di suatu tempat, Beysa melihat sebuah taman berbunga. Ada sebuah telaga berair jernih, berkerikil warna warni, dan anak-anak ikan berlarian manja. Besya tersenyum. Ia suka sekali melihat pemandangan itu.

Matahari pagi terbit dari balik sebuah bukit berhutan pinus. Cahayanya indah. Dan, tiba-tiba, Beysa mendengar ada suara yang menggedor-gedor pintu. Memanggil-manggil namanya.

“Bey… Beysa… Buka pintunya…!”

Suara Ayla, manajernya. Suara gedoran pintu semakin kuat dan ramai, juga suara sirene mobil polisi.

Beysa tak menoleh, ia terus berjalan menuju titik cahaya yang menuntunnya. Sepanjang perjalanan itu, ia merasakan kehangatan dan kedamaian yang tak pernah ia temukan selama ini.

Di beranda media sosial, netizen membagikan foto-foto dan berita yang ditulis media tentang seorang artis muda yang ditemukan gantung diri di kamar apartemennya. Artis itu sedang naik daun. Jagat dunia maya heboh. Berhari-hari tayangan infotainment di televisi swasta menggosipkan berita itu.

Beysa tak peduli. Ia tak mendengarnya lagi. Ia telah pergi. Jauh sekali. (*)

Balingka, 23 Oktober 2019

Tentang Penulis:

INDRIANI SEPTIANI. Lahir di Balingka, 14 Maret 2003. Ia siswi di SMA Negeri 1 Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sekarang duduk di kelas XI Jurusan IPA. Dia salah seorang siswi yang terpilih mengikuti Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.