Mari Kita Pura-Pura Dewasa Saja

oleh -48 views
Cerpen Lira Yanti

Cerpen Lira Yanti

Kau mungkin kaget bukan kepalang saat aku mengajakmu untuk pura-pura menjadi manusia dewasa. Meski sebenarnya usia kita sudah sama-sama berjalan dalam lalu lintas dewasa. Kau sudah mulai menjabat dalam pekerjaanmu, sedangkan aku hanyalah mahasiswi cantik yang masih hobi bolak-balik kampus setiap hari.

Kau sudah kembali mengenakan seragam kebesaranmu, sedangkan aku masih saja sibuk dengan stelan muslimahku yang selalu menampakkan perbedaan.

Aku masih setia mendengar komentar nyinyir banyak orang tentang penampilanku. Meski banyak yang akhirnya men-judge seenak hati tentang penampilanku. Aku hanya pura-pura tak peduli dan dalam hati mengatakan ini dalam diriku. Insya Allah aku akan istiqamah dengan pakaian muslimahku, meski terkadang aku masih suka ceplas-ceplos nggak jelas sama teman lelaki di lokalku.

Terlalu banyak orang berfikir begini. “Duh, yang sudah pakai busana muslimah saja masih suka ngomong sana-sini sama laki-laki.”

Kita harus meluruskan pandangan ini, karena setiap kita mungkin mengetahui apa hukumnya menutup aurat terhadap perempuan. Hukumnya wajib. Tidak ada pakai tapi. “Tapi kan dia masih suka jalan sama cowok, masih suka jalan celingak-celinguk kanan-kiri, masih suka tebar senyuman sana-sini, dan masih banyak lagi “tapi” yang terlontar maupun yang cuma terpendam sampai basi sendiri di dalam hati.

Aku sampai lupa bercerita tentangmu.

Kita memang seusia. Hanya saja kamu lebih pintar dan lebih rajin dariku. Meski tak semua orang melihat kenakalanku, tapi tetap saja aku tidak bangga dengan ketertinggalan prestasiku dari kamu. Dengan usia yang sama aku dan kamu sudah berada dalam zona yang jauh berbeda.

Baiklah, kamu tentu saja menghargai perjuanganku. Karena bertahun-tahun berada di bangku pendidikan tentu saja memberikanmu ribuan pengetahuan dan logika yang bisa kau mainkan untuk menilai seberapa jauh aku tertinggal darimu.

Beberapa bulan lalu, sore hari di akhir tahun yang cerah. Ketika aku memutuskan memenuhi ajakanmu pergi bersama.

“Satu jam saja” katamu waktu itu.

“Baiklah bila itu maumu, mari kita pergi.” Jawabku hampir tanpa ekspresi.

Mungkin kau tidak tahu, aku benar-benar merasa bahagia hari itu. Aku benar-benar merasa kau sudah nyata dalam hidupku. Namun rupanya kau masih saja bukan milikku. Dan, aku tentu saja bukan milikmu. Kau dan aku sama-sama tahu bahwa kita telah melanggar ajaran agama dengan berkhalwat.

“Kita jalan ke arah mana?” tanyamu

“Terserah saja. Aku ngikut kamu aja.” Cetusku

Kita menghabiskan hari itu dengan sangat bahagia. Seperti pasangan muda yang baru saja menikah. Kita melupakan status dan menghindar dari tatapan mata teman-temanmu yang mungkin saja ada di tempat yang sama dengan kita.

Kau selalu saja was-was, takut ada teman yang melihat. Katamu.

“Kok lebih takut sama teman daripada Tuhan? Tuhan kan selalu melihat kita, sekalipun sudah bersembunyi ke dalam tempat terdalam, dalam hatimu.” Aku cengengesan sejenak.

Kamu hanya diam tak menanggapi pertanyaanku. Mungkin pertanyaanku adalah pertanyaan orang bodoh yang aneh, menurutmu.

Kamu memang suka mengabaikan apa yang aku katakan dan katamu atau pertanyaanmu tak akan pernah berakhir sebelum aku menggubrisnya. Sore itu benar-benar cerah. Kita sama-sama menjaga suasana hati masing-masing agar tidak terjadi konflik. Kau mengantarku pulang ke rumah kos dengan kaca helm tertutup rapat.

Sejenak sebelum berbalik pulang kerumahmu, ternyata kau meninggalkan senyummu dihatiku. Entah itu benar-benar senyum terakhir yang kau berikan pada mataku ataukah masih akan ada senyum lain yang lebih menawan dari itu.

Kau beranjak pergi. Maaf karena aku menolak ajakanmu untuk pergi merayakan tahun baru malam itu. Aku tidak ingin pergi bersamamu. Aku tidak ingin lagi memberi peluang setan menggodaku atau kamu. Kita masih sama-sama muda, setan bisa berbuat apa saja.

“Hanya sampai jam sembilan kok, setelah itu aku antar kamu pulang ke kos.” Bujukmu.

Sedikit manja, jujur aku hampir tergoda ajakanmu.

“Tidak! Aku tidak bisa.” Tegasku

“Sampai jam sembilan malam saja, setelah itu kita pulang.” Pintamu

“Maaf, aku tidak bisa!” tegasku lagi

“Ayolah. Pliiiis.” Aku tak benar-benar melihat ekspresi di balik helm-mu.

“Sudah, aku bilang tidak. Ya tidak.”

Akhirnya kau pasrah dengan penolakanku. Kau bilang kau paham apa alasanku. Baiklah, itu sangat bagus sekali. Kau memang harus paham terhadap apa yang nanti akan kau ajarkan terhadap anak-anakmu.

Tiga hari berlalu.

Entah kali ke berapa aku mengatakan ini kepadamu. Memberimu dua pilihan rumit yang sudah jelas-jelas kau katakan tidak. Maaf.

“Kita pilih saja. Menikah atau lupakan hubungan ini.” aku hanya berusaha membuat nadaku sedatar mungkin agar mampu membuatmu yakin akan keputusanku.

“Baiklah, kamu fokus kuliah dulu.” pilihmu

Aku mungkin masih seperti anak-anak. Ku pikir menikah adalah hal yang mudah. Tapi mengapa semua orang punya alasan untuk menunda pernikahan dan selalu punya alasan untuk berpacaran?

“Kupikir pacaran yang haram, bukan nikah muda. Bukan juga nikah sambil kuliah.” Kataku.

“Masalahnya bukan itu, untuk saat ini aku belum siap mendatangi orang tuamu. Aku punya alasan. Modalku belum cukup untuk melamarmu.” Aku kecewa mendengar ini.

Hampir saja aku menyimpulkan bahwa kau tidak benar-benar sayang padaku. Tapi tak semudah itu. Mungkin aku egois memintamu datang. Aku saja masih jauh dari kata pantas untuk menerima lamaran orang baik sepertimu.

Suatu senja, kita terlarut dalam suasana kasih sayang dan rindu yang menggebu-gebu. Aku sungguh merindukanmu. Tapi kita sudah berbicara dengan orang yang sama-sama berbeda. Aku sudah mendengarkan kata hatiku. Kau pun mendengarkan apa kata hatimu. Kita akhirnya memutuskan saling mendo’akan saja.

Untuk apa kita berbahagia dengan status atau tanpa status. Tetapi melanggar syari’at.

Aku dan kau telah yakin untuk tidak lagi bertemu. Tidak lagi berkirim pesan. Tidak lagi saling mendengarkan. Sampai suatu saat, jika ditakdirkan Tuhan. Telinga kita tak berdosa lagi karena saling mendengarkan. Sampai mata kita tak berdosa lagi untuk saling bertatap. Atau, sampai jemari kita takkan tersiksa lagi karena saling menggenggam erat.

Kau memutuskan untuk memantapkan hati untuk pura-pura dewasa. Aku juga. Kita sama-sama berjalan di jalan berbeda, meski kita akan selalu melakukannya. Kita sama-sama telah memilih mematuhi syariat dan aturan dalam agama.

Aku sangat hebat untuk terlihat pura-pura dewasa menyikapi rindu yang hadir mneyelimuti jiwaku. Kau juga tampak tegar dan menikmati masa pura-pura dewasamu. Tak ada yang akan kalah atau menang, tapi kita berjanji akan sama-sama memenangkan pertandingan pura-pura dewasa ini.

Pada akhirnya aku menyadari, kau harus membahagiakan orang tuamu dulu. Ah, meski aku ingin menyebutnya “mertua”. Namun itu masih jauh, mari kita lupakan saja. Akhirnya aku menyadari, itulah alasan terbesarmu untuk menjadi pura-pura dewasa. Ya, pura-pura dewasa. Karena tak pernah berucap rindu meski malamnya berlinang air mata di depan Tuhan.

Aku juga, aku ingin terus berpura-pura dewasa sampai aku akhirnya bisa membanggakan ayah dan ibu yang telah membesarkanku dengan segala pengorbanan dan kasih sayangnya. Dan juga memantaskan diri untuk bertemu kamu dalam ikatan halal. Kamu. Iya kamu, kok malah menoleh ke belakang?

***

Batusangkar, 06 01 2017

Lira Yanti  lahir di Padang Panjang, 12 Agustus 1995. Anak ketiga dari lima bersaudara, yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah kampung di kaki Gunung Singgalang. Sekarang sedang menyelesaikan studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di IAIN Batusangkar. Penyuka alam dan pegunungan. Suka menulis puisi dan cerpen sejak Sekolah Dasar.

One thought on “Mari Kita Pura-Pura Dewasa Saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.