Pasar Salah Satu Objek yang Menarik Minat Wisatawan Berkunjung ke Bukittinggi

oleh -117 views
Suasana kesibukan pedagang dan pembeli di Pasar Atas Bukittinggi di era kolonial Belanda. Foto koleksi Tropen Museum, Amsterdam, Belanda.

TRAVESIA.CO.ID – Suasana pasar Kota Bukittinggi (yang pasti berbeda jauh dari suasana pasar di Eropa) menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sehingga hampir semua catatan perjalanan dan buku panduan wisata di masa kolonial Belanda menulis mengenai keadaan pasar Bukittinggi.

“Bukan saja informasi yang bersifat umum, sajian mereka bisa dikatakan sangat detil,” ungkap Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, Guru Besar Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Andalas Padang ketika menjadi Pembicara Seminar dan Lokakarya Kearsipan bertajuk “Bukittinggi dalam Sejarah Perjalanan Bangsa” yang digelar Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi, Rabu (13/11), di Istana Negara Triarga Bukittinggi.

Pada kesempatan itu, Gusti Asnan membentang kertas kerja berjudul “Bukittinggi dalam Catatan Perjalanan dan Buku Panduan Wisata pada Masa Penjajahan Belanda”.

Menurut Gusti Asnan, pada masa kolonial, Bukittinggi (Fort de Kock) adalah salah satu kota penting di Hindia Belanda umumnya dan di Pulau Sumatra khususnya. Kota itu memiliki peran sejarah yang strategis dan banyak pula peristiwa sejarah yang terjadi di kota itu.

“Peran sejarah yang dimainkannya dan berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di kota itu telah menarik sejumlah sejarahwan dan peminat sejarah untuk meneliti dan menuliskannya,” kata Gusti Asnan.

Terkait pasar-pasar Bukittinggi, menurut Gusti Asnan merujuk buku panduan wisata pada masa penjajahan Belanda yang ia temukan, di antaranya mencakup lokasi pasar. Penulis buku-buku panduan itu menggambarkan letak pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah residen (asisten residen) dan juga tidak terlalu jauh dari balai adat.

Selain lokasi, juga disebut tentang keadaan pasar di masa itu. Informasi mengenai keadaan pasar sangat menarik untuk dicermati, karena ada perubahan keterangan terutama mengenai fisik pasar dari berbagai buku yang terbit dari berbagai kurun waktu yang berbeda.

Karya-karya yang terbit sebelum abad ke-20 misalnya, papar Gusti Asnan, banyak berkisah tentang keadaan pasar yang hanya terdiri dari lapangan rumput, di mana saudagar menggelar dagangannya (juga sering disebut bahwa lapangan itu berada di dekat pohon beringin, sejenis pohon yang dianggap keramat bagi orang Minang), gubuk sederhana atau gubuk reot beratapkan rumbia.

“Pada buku-buku yang terbit sejak awal abad ke-20, gambaran fisik pasar sudah jauh berbeda. Pada saat itu sudah dikatakan adanya warung atau toko yang bagus (bagus dalam artian terbuat dari semen, beratap seng, ada sejumlah los, di mana pada masing-masing los saudadagar menjual barang-barang yang sama (mulai ada pengkhususan tempat berjualan),” ujar Gusti Asnan.

Selain itu, juga dibahas tentang barang-barang yang diperjualbelikan di pasar, seperti keperluan pertanian, pakaian dan perhiasan, termasuk barang-barang produksi luar negeri (Eropa dan Jepang).

“Sedangkan prasarana transportasi ke pasar banyak ditulis bahwa pedagang atau pembeli datang ke pasar dengan berjalan kaki, namun barang-barang umumnya dibawa dengan pedati,” ujarnya.

Aspek lain yang mendapat perhatian utama dari para penulis buku-buku panduan itu, ungkap Gusti Asnan, adalah banyaknya perempuan yang berdagang dan berbelanja daripada laki-laki. Di samping itu dituliskan juga bagaimana penampilan, khususnya pakaian yang dikenakan oleh para perempuan dan lelaki ketika mereka ke pasar Bukittinggi.

Kaum perempuan digambarkan memakai baju kurung, bertikuluk, dan memakai perhiasan kalung, gelang dan anting yang umumnya terbuat dari emas. Sebagian dari mereka bahkan dikatakan memakai berbagai perhiasan tersebut dalam ukuran besar, sehingga sangat mencolok mata.

Sementara kaum lelaki digambarkan memakai dua corak pakaian. Satu kelompok (dan paling banyak) memakai pakaian hitam, berdestar, berkain sarung. Kelompok lainnya memakai baju berukuran dalam (jubah) dan serban berwarna putih.

“Dikatakan bahwa kelompok berserban ini adalah kaum agama. Satu lagi informasi yang ditampilkan adanya orang Barat, Belanda, yang juga berbelanja di pasar Kota Jam Gadang itu,” tambah Gusti Asnan. (han/travesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.