Sajak-sajak Fanny J. Poyk

oleh -205 views

FANNY J. POYK. Mulai menulis puisi sejak 1973, kemudian dilanjutkan membuat buku antologi puisi berjudul Gemuruh Rasa dan Morotai. Puisi-puisinya dibukukan di puluhan antologi puisi bersama penyair-penyair Indonesia lainnya. Fanny juga menjadi pelatih membaca puisi di berbagai SMA, menjadi juri lomba-baca dan tulis puisi. Selain membuat puisi, Fanny menulis cerpen baik anak-anak, remaja hingga dewasa. Menulis novel, biografi, buku-buku motivasi, profil wilayah, biografi, dll. Fanny juga memberikan pelatihan menulis ke berbagai provinsi di Indonesia dan luar negeri. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media di Indonesia dan luar negeri, salah satu cerpennya terpilih sebagai 20 cerpen terbaik versi Kompas pada 2017. Fanny kini aktif sebagai pembaca puisi, penulis puisi, cerpen, novel dll.

Sekelumit Rasa

Mataku sulit terpejam
aku berpikir tentang beragam hal
tentang waktu yang berjalan dengan ganas
tentang semangat di tuanya raga
tentang tubuh yang bertarung pada binalnya penyakit
tentang kilas balik kisah terdahulu dari Bapak, Mamak dan adik-adikku
kenangan masa kecil berkelindan seperti potret samar dari mereka yang tak pernah kembali

Dunia begitu cepat berputar
waktu memagut semua kisah tanpa sisa
hidup bagai rotasi dari skenario kehendakNya
aku merenungi segala sikap
menerawang pada tatap dari semua peristiwa waktu demi waktu
memohon agar yang jahat memperoleh pengampunanNya menggiring laku pada kebijakan hakiki menempatkan kisah yang menukik di lajur kebajikan

Di tengah kelemahan kedaginganku, semua nista dan prahara tidak menimpa agar akar pahit enggan merasuki kalbu
lalu menggumpal menyerang dan memudarkan sinar kebaikan

Jangan… jangan lumpuhkan ingatanku, beri aku sedikit waktu lagi
banyak yang harus kukerjakan
juga menebarkan cinta pada mereka yang kukasihi
di jelang tuanya usia, aku tak mau terhempas pada ketidakberdayaan yang hina terbaring lemah tanpa daya, menjadi beban si penjaga

Baiklah, jika waktuku tiba, biarkan aku tegar melawannya
aku tak mau keriput di wajah memulas segala
tak mungkin juga aku hidup seratus tahun lagi
yang indah menawan tak beranjak dari asalnya
agar bila kau tatap kelak kecantikan masih tersisa meski tinggal sekelumit

Aku cinta padamu, aku yang ada padamu, kenang dan simpanlah semua lakon yang pernah ada
sebab cintaku pada kata tak pernah membuyarkan rindu

Salamku…

FJP, 14 Nov 2019

Kekasih

Kekasih, malam yang gulita telah berganti warna
Membelah puluhan mimpi hingga terpatri di lelahnya hari
Tak usah berkata lirih dengan kiriman rindu nan membuai
Sebab rasa mulai tererosi masa
Meski kenangan tetap membekap raga

Waktu telah mengirim takdirnya
Rindu tak lagi menukik di ujung pena
Namun imaji tertanam kuat di lenturnya jemari
Bermain pada elegi sunyi kokoh dan tegak

Kisah yang ada tak lagi menanam pendar di mata
Benturan luka menyayat di sudut benak
Permainan kata usai sudah
Berpadu di rona sunyi dari sayatan pedih yang tak terperi

Kekasih, biar sepi sunyi sendiri…

FJP, Nov 2019

Pulanglah Nak

Aku menunggumu Nak
Pulang tanpa lebam di pipi
Untuk apa kau pergi ke sana
Tempat akar dari yang buruk
Tempat otak merancang asa yang berbalut maksud tak pernah murni, rakus, tamak juga keji

Aku menunggumu Nak pulanglah dengan kisah tak lagi muram
Jangan bawa memar di tubuh serta nyeri dan erangan lantang juga gas air mata sesak di dada
Atau keranda bisu tanpa nama

Tahukah kau Nak
Kau kuda troya dari bidak bidak tolol yang siap jadi korban di muka
Sang perancang terbahak nyaris tanpa rasa, siap bermain di pucuk tertinggi dari monumen semu para durjana

Pulanglah Nak, mereka punya rencana
di balik yang ada akan mengacaukan bumi subur laut kaya
memorakmorandakan NKRI
menjauhkan kau, ibumu, saudaramu, ayahmu dari cinta sejati mengakar di jiwa

Pulanglah Nak…

FJP Sept/2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.