Sajak-sajak Bara Pattyradja

oleh -48 views

BARA PATTYRADJA. Penyair Indonesia. Lahir di Lamahala, Flores, NTT. Karya buku puisi terbarunya, Geser Dikit Halaman Hatimu.

Papua

airmata adalah ibu kami
yang menggarami
waktu. di tungku
kematian memasir
pada lengan ayah

kau sebut kami timur
bengal dan keras kepala
kau congkel nama kami
dari sejarah

negeri yang terus
menyebar nyeri
di dada kami
api kelam memanjang
hingga buta mata kami

daun telinga yang menjelma batu
rambut kriting yang terus
dipanggang matahari
kini menjalar
seperti nasib kami
menghunjam bagai akar
di jantung bumi

nyalang dan melata
di rimbun ijuk dan alang

takdir hitam kami
tubuh hitam kami
lumpur emas kami
yang kau sebut
sekeping sorga di bumi

2019

Tubuh Sajakku
: buat Shofis

yang tak pernah uzur adalah kata-kata
maka kau pun tak akan menjadi tua
dalam tubuh sajakku

: sebab manusia yang jatuh cinta awet muda

darah manisku
bukan paras yang mengekalkan rasa
maka tak perlu operasi plastik untuk menjadi jelita
jangan takut pada jerawat, pada komedo, pada keriput kulit
di bawah kantung mata

udara basah dari hembusan nafasku
akan menyucikan pori-porimu
yang selalu terbuka menuju masa lalu

karena mencintaimu
adalah merayakan setiap detak waktu
siang dan malam, esok maupun hari ini
di antara langit buta
dan bumi yang sedang hamil tua
aku akan terus lahir kembali dari rahimmu
bagai janin puisi yang kau kandung sekian musim

mencintaimu adalah melepaskan rahasia
ke dalam rahasia perjumpaan
seperti partus yang teramat sakit, teramat ilahiah
seperti ada dan tiada

mencintaimu adalah menemukan anak kunci
pada pintu hati yang telah digembok
mencari jejak-jejak kabut pada langkah-langkah kecil
setelah hujan memberiku waktu untuk berteduh
satu kilometer dari pos ronda

mencintaimu adalah membiarkan kantuk
menyandera mata kanak-kanak
mengendus dengus subuh
menatap siluet rambutmu di tembok kamar
menghirup aroma laut, memburu cahaya bulan
mengeja nama-nama, merapal nasib
dari kuil ke kuil
melupakan dunia di bawah remang miang
lampu-lampu kota

sampai aku terbakar cahayamu
di kawah-kawah darahku sendiri
tak seorang mampu memadamkannya, sayangku

mencintaimu adalah menulis diri dalam-dalam
pada rendah tanah
dan ketinggian menara mimpi
pada buku kehidupan yang dipenuhi air mata

yang tak pernah uzur adalah kata-kata
maka hapus gincumu di bait kedua
agar tetap cantik bayangmu di imajiku

hati adalah alarm yang tak pernah berhenti
memberi isyarat pada kita
dengarlah, gugusan kalimah yang berdentang di aortaku
seperti memantulkan sebuah tanya yang tak pernah usai

mencintaimu, kekasihku
adalah mati dua kali, awet muda selamanya

2019

Masuklah

dari kamus yang bengal
aku kirim puisi ini untukmu
agar dapat kau lunasi rindumu
pada kekata

di lugu mata majasku
ada sebuah dunia
yang telah kubentangkan untukmu
; hanya untukmu

masuklah!
tapi jangan berharap menyaksikan wajahku
sebab aku tak tergambar di dalamnya

segala yang tak terduga akan mendatangimu
serupa langit menemui bumi
ketika hujan menguapkan buih lautan

hikmati bunyi
tik–tik pada jantung larik
yang bergema dalam aortamu

peraslah rasa ingin tahumu
yang menyelubungi tepian–tepian makna
karena darah dari desir puisiku
tak menyodorkan warna peristiwa

masuklah!
aku menunggumu di balik pintu bahasa
masih dengan debar yang sama

2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.