Sajak-Sajak Irawan Sandhya Wiraatmaja

oleh -174 views

IRAWAN SANDHYA WIRAATMAJA. Lahir di Jakarta, 21 Juni. Buku Puisinya, Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu (2017) memenangkan Anugerah Puisi Utama Hari Puisi Indonesia (HPI) Tahun 2017. Korrie Layun Rampan memasukannya ke dalam Angkatan 2000. Menulis sastra sejak di bangku Sekolah Menengah Atas. Karya pertamanya dimuat di Merdeka Minggu (alm.) tahun 1976. Tahun 1977 puisinya dimuat di Majalah Sastra HORISON. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai surat kabar dan majalah terbitan Jakarta, Bandung, Padang, Makassar, Tanjung Pinang, Pekanbaru, Semarang, Banjarmasin, Lampung dan Yogyakarta serta majalah sastra HORISON, Basis, Majas dan beberapa antologi puisi bersama. Kumpulan puisi tunggalnya Anggur, Apel dan Pisau Itu (2016), Dan Kota-Kota Pun (2016), Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu (2017), Air Mata Topeng (2017) serta Serpihan Esei Sastra dan Sosial Politik, Teror Di Antara Dua Ideologi (2016), Ideologi Ibu dan Baju Yang Koyak (2018), Vu berbilang akar-akar kecubung (KKK, 2019) dan Tafsir Sunyi 99 Puisi (Penerbit Kompas, 2019). Sekarang sebagai Anggota (Komisioner) KASN periode 2019-2024.

Teluk dari Kapal yang Bersandar

i//

dan kapal-kapal pun bersandar, tubuhmu berguncang
sebuah teluk panjang, bukit-bukit yang tegak
semak belukar dan pepohonan menjadi cagak
deru mesin kapal
dan palka, tiang bendera
berkibar-kibar di samping ruang
perjamuan yang baru saja
selesai: mengusap mulut yang basah
dengan tangan yang kekal

kata-kata yang membawa kalimat
kita tuang ke dalam cangkir kopi pahit
terasa di lidah, hanyut dan menyentak
ujung kesadaran
wajah kita yang kusut dan napas
yang menjadi desir angin
menyusuri cuaca yang panas
pada tubuh kecil dan jari-jari
yang terlepas untuk melambai

“kita harus berbalik arah
matahari segera hilang dan kita kehilangan
warna untuk sebuah lukisan pesisir kehidupan.”

ii//

kapal-kapal telah menanam sauh di dermaga
beton, dingin dan panjang
kita pun turun tergopoh-gopoh melempar
jejak-jejak kaki dengan gugup

ada tercium bau yang terbakar
mungkin sebuah mimpi atau kenangan
yang tersesat di antara suara ombak dan kelepak
burung-burung yang menyusuri bukit

“kita harus ke sana, mendaki tanah yang penuh
pohon-pohon dan sesuatu yang tidak terduga
bisa muncul melompat menerkam tubuh keriput”

dan kau pun akan terkejut, mengeluarkan desah
membiarkan ketakutan menjadi sebuah gerak
yang diam-diam merambat dalam rambutmu yang bergeliat.

Januari 2019

Kepada Tuan P yang Bicara

Tuan bukan yang diam? Yang selalu bicara
Dengan simbol, tanda dan isyarat
Yang berdiri di atas mimbar
Menyembunyikan mikropon di balik telinga

Orang-orang yang tak mendengar, hanya merintih
Seperti menahan luka atau nyeri
Untuk memberi makna yang luput dimengerti
Lalu ditinggalkan tubuhnya menggeletak

Tapi tuan tetap Tuan, yang menjadi
Untuk diam atau bicara, hanyalah sebuah kisah
Dari masa silam yang hilang dan tak terbaca

Tuan yang lupa? masuklah ke dalam liang
Dari rumah tanpa jendela dalam bentuk mozaik
Ada yang tidur, mendengkur atau terbahak kemudian melenyap.

Februari 2019

Orang-Orang yang Aku Panggil

Berhentilah di sini, sebelum musim menghampir
Orang-orang yang aku panggil menoleh, ke masa silam
Seperti ada yang terlampaui, sebuah garis atau sebuah titik

Yang memanjang pada sebuah kenangan, menjadi waktu
Yang kaucium diam-diam di balik kelambu yang sobek
Seperti langit yang terbakar, belah kemudian muncul kilatan cahaya

“Orang-orang itu. Orang yang berdiri di antara keriuhan
Dan ledakan syahwat dan dendam muasal.” Kau berjalan
Memintas di dalam kerimbunan semak belukar, tumbuh jadi akar.

Februari 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.