Berguru di Negeri Jepang (Bagian 24)

oleh -13 views

Berguru di Negeri Jepang

Oleh Marjohan, M.Pd dan Sefrita Yenti

Prosedur Ke Luar Negeri

Tiba-tiba Oonishinorio San meneleponku dari Jepang. Ia mengundangku untuk bisa berkunjung ke sana. sebagai Ia menjamin untuk akomodasiku disana. ―Horeeee…..tentu aku merasa sangat bahagia‖. Aku harus mengurus prosedur keberangkatan ke luar neger- aku mengurus visa kunjungan ke Jepang.

Terus terang aku belum pernah pergi ke Medan- jadi aku tidak tahu daerah Medan sama sekali. Sebelumnya yang mengurus perjalanan kami ke Jepang diatur oleh pihak pemerintah Kab. Tanah Datar. Aku memberanikan diri untuk berangkat ke Medan. Untung aku punya paman di sana. Maka aku harus berkunjung ke rumah paman terlebih dahulu. Aku berjumpa paman dan bibi di Medan, namun aku memutuskan untuk tinggal di penginapan (hotel).

Aku tidak bisa tidur dengan nyaman hotel dengan pencahayaan agak remang- reman, aku punya kebiasaan phobi kegelapaan- ingat dengan cerita kanak- kanak- cerita tentang hantu atau makhluk yang seram- seram. ―Wah aku sudah dewasa…..hantu itu tidak ada….kuntilanak itu hanya dongeng anak-anak‖ Aku harus mengalahkan ketakukan ala anak- anak. Maka sekarang aku berpesan pada semua orangtua bahwa anak- anak tidak boleh disuguhi cerita seram- seram yang berlebihan karena dalam memori jangka panjangnya bisa tertanam ketakutan tanpa alasan.

Aku meninggalkan hotel lebih awal di pagi hari. Aku berjalan menuju Wisma BII di jalan Diponegoro untuk mengurus visa. Aku berjalan kaki sekitar 8 km dari Istana Maimun. Untuk wilayah Pulau Sumatera Attase Budaya Jepang ada di Medan- di sana juga ada perpustakaan yang bisa kita gunakan untuk mencari literature tentang Jepang.

―Konsulate Jepang ada di Wisma BII lantai 5. Aku diberitahu tentang persyaratan pengurusan visa: tiket pulang pergi, pas foto dengan latar belakang putih, fotocopy buku tabungan, jaminan dari orang Jepang, tabungan, kartu keluarga, dan rencana perjalanan. Kemudian aku juga harus mengisi formulir. Biaya pengurus visa Rp. 325 ribu. Juga ada wawancara dengan orang Jepang dengan bahasa Jepang, yaitu tentang: apa tujuannya, alasan dan berapa lama tinggal di Jepang.

Saat itu aku menunggu visa keluar selama 3 hari. Sambil menunggu visa aku bisa jalan- jalan seperti ke dalam Istana Maimun, pergi sholat ke Mesjid Raya Medan. Juga aku pergi untuk membaca literature tentang negeri sakura di perpustakaan Konsulate Jepang‖.

Selesai pengurusan visa, aku kembali mengambil barang- barang ke penginapan dan menuju Bandara Polonia Medan, untuk bisa terbang ke BIM Padang. Aku harus segera pulang ke rumah- aku tidak punyabanyak waktu dan aku harus berkemas- kemas untuk menuju Jepang.

Aku hanya punya satu hari saja di Lintau dan balik lagi ke Padang. Aku terbang dari BIM Padang terus ke Kuala Lumpur dan Osaka. Kali ini aku juga terbang dari Kuala Lumpur ke Osaka dengan Malaysia Airline. Terbang kali aku pergi sendirian- jadi aku harus lebih berani.

Marjohan, M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar. Sumatera Barat. Ia juga tercatat sebagai ―Peringkat 1 guru berprestasi tingkat nasional 2012‖ dan penerima Satyalencana Pendidikan dari Presiden RI. Aktif menulis pada koran Singgalang, Serambi Pos, Haluan dan Sripo (Sriwijaya Post). Telah menulis buku dengan judul ―School Healing- Menyembuhkan Problem Sekolah (Pustakan Insan Madani,2009- Yogyakarta)‖, ―Generasi Masa Depan- Memaksimalkan Potensi Diri Melalui Pendidikan (Bahtera Buku,2010-Yogyakarta)‖, Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Prancis (Diva Press, 2012- Yogyakarta), Akhirnya Kutaklukan Kampus Jerman (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan buku Budaya Alam Minangkabau (Citra Pustaka, 2012- Solo). Pengalaman Meraih Guru Berprestasi Nasional (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan Melbourne Memang Dahsyat.

Sefrita Yenti, Lahir tahun 1984 di Lintau- Batusangkar, Sumatera Barat. Pendidikannya di SMAN 1 Lintau- Kab. Tanah Datar dan melanjutkan pendidikan ke INGG Bukittinggi. Ia mendalami budaya dan bahasa Jepang, kemudian pernah bekerja di Perusahaan Thomson dan Pt. Nissin Kogyo, Batam. Ia mengikuti pelatihan magang ke Jepang melalui PT Yuko Tesa Mirai di Padang. Usai pelatihan ia bekerja di perusahaan Kabushiki Kaisha Chuuoo- Shikoku, Prefecture Kagawa, Kanonji Shi, Nakahime- Japan. Setelah 3 tahun ia balik ke Batusangkar- Sumatera Barat, kemudian mendirikan sekolah Bahasa Jepang,inggris dan Mandarin,jarimatika. dengan nama Chuoo Mandiri di Tanjung Karang, Propinsi Lampung.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.