Pantai Desa Semukut Berpotensi Jadi Objek Wisata yang Menarik Dikunjungi

oleh -471 views
KAMPUNG yang hilang di bibir pantai Desa Semukut, Kepulauan Meranti, Riau, memiliki potensi pariwisata, dan menunggu tangan-tangan profesional untuk menggarapnya. (Foto: IST.)

TRAVESIA.CO.ID – Keindahan pantai Desa Semukut yang eksotis dan alami berpotensi menjadi objek wisata yang menarik dikunjungi. Di pantai itu juga terdapat ‘Kampung yang Hilang’ dan menarik ditulis menjadi karya sastra.

“Saya mencintai kampung ini, dan saya ingin Semukut menjadi ingatan bagi banyak orang,” ujar Siti Salmah, putri daerah Semukut, Kepulauan Meranti, Riau, yang bersama pegiat-pegiat Komunitas Matahari Sastra Riau ‘pulang kampung’ pada 29-30 November 2019 dalam rangka Sastrawan Jelau Tanah Jantan. Siti Salmah juga mengelola sebuah penerbit independen di Riau bernama Salmah Publishing.

Pada kesempatan itu, Komunitas Matahari Sastra memberikan donasi sejumlah buku bacaan untuk menambah koleksi Perpustakaan Desa Semukut yang baru diresmikan serangkai dengan kegiatan dialog sastra, pentas seni, dan pengajaran sastra di Madrasah Aliyah Hidayatul Mubtadiin, Semukut.

Ketua Komunitas Matahari Sastra Griven H. Putera menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Semukut dan Kepala Madrasah serta pihak lainnya di Semukut yang telah menyambut kehadiran mereka dengan antusias.

“Tujuan kami berkunjung, selain untuk silaturahim, juga ingin memotivasi generasi muda semukut agar mencintai buku, gemar membaca dan menulis,” ungkap Peraih Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan tahun 2019.

Menurut Griven, dengan bersastra membuat orang berbudi. Sesuai motto Tim Matahari Sastra, dengan sastra hidup berbudi, dengan karya hidup abadi, dibingkai agama baru berarti.

“Maka diharapkan siswa-siswi madrasah memiliki kemampuan bersastra agar hidup berbudi dan berkarya sesuai dengan nilai agama,” ungkapnya.

Kepala Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Tatang Hadi, mengucapkan terima kasih karena para sastrawan Riau yang telah sudi berkunjung ke MA Hidayatul Mubtadiin.

“Semoga materi menulis sastra di kelas dan eksplorasi di alam terbuka yang dilakukan para sastrawan dapat memotivasi siswa agar semakin gemar membaca dan menulis,” ungkap Tatang.

Hadir pada kesempatan itu sejumlah sastrawan Riau, seperti TM Sum, Zamhir Arifin, Bambang Kariyawan, Riki Utomi, Siti Salmah, Eko Ragil Ar-Rahman, Muhammad de Putra, TM Fauzi dan Said Mahdi.

Di pihak sekolah, selain kepala madrasah juga hadir Wakil Kepala serta Majelis Guru, Siswa, bukan saja dari MA Hidayatul Mubtadiin tapi juga dari SMP se Kecamatan Pulau Merbau.

Sastrawan masuk sekolah dan pentas seni itu juga bersempena kegiatan perpisahan PPL mahasiswa STAI Selatpanjang.

Selain pembacaan puisi oleh para sastrawan Riau juga ditampilkan beberapa penampilan seni seperti tari persembahan, pencak silat, dance ala anak madrasah serta pembacaan puisi oleh siswa.

Berwisata ke Pantai Kayu Ara

Seusai kegiatan sastra di MA Hidayatul Mubtadiin, Kepala Desa Semukut, Ibrahim, S.Pd., dan Kepala Madrasah Tatang Hadi mengajak para sastrawan berwisata ke Pantai Kayu Ara (kampung yang sudah ditinggalkan penduduknya sebab pantai dikikis abrasi–red.).

Di samping menikmati pemandangan pantai yang indah, para sastrawan juga melihat masjid dan rumah-rumah yang sudah ditinggalkan penduduk.

Dari Kampung Kayu Ara, para sastrawan pun beranjak melihat secara langsung Bangsal Pembuatan Arang di tepi Selat Rengit. (ghp/han/travesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.