Sajak-sajak Muhammad Subhan

oleh -68 views

MUHAMMAD SUBHAN. Penulis dan Pegiat Literasi Sumatra Barat. Esainya satu di antara tiga penulis terbaik pilihan kurator Festival Sastra Bengkulu (Bengkulu Writers Festival) 2019. Puisinya juga terpilih tiga besar Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019. Lolos seleksi Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Kemendikbud RI 2019 untuk SMA Negeri 1 Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ia juga Penulis Emerging Indonesia Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Penerima Pin Emas dari Wali Kota Padangpanjang sebagai Pelopor Gerakan Literasi Kota Padang Panjang Tahun 2018 dan Penerima Anugerah Literasi Pemerintah Privinsi Sumatra Barat 2017. Pernah diundang sebagai peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II pada 18-20 Juli 2017 di Ancol, Jakarta. Bergiat di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan Forum Pegiat Literasi (FPL) Kota Padangpanjang. Di antara bukunya Bensin di Kepala Bapak (Kumpulan Cerpen, 2019), Kota di Selembar Kuarto (Kumpulan Puisi, 2016), Sajak-Sajak Dibuang Sayang (Kumpulan Puisi, 2015), Rumah di Tengah Sawah (Novel, 2015), Rinai Kabut Singgalang (Novel, 2011), serta puluhan buku bersama. Instagram: muhammadsubhan2. Facebook: Muhammad Subhan. Tinggal di pinggir Kota Padangpanjang, Sumatra Barat.

Haruskah Kubunuh Rindu

Haruskah kubunuh rindu, sebelum ia berkecambah,
sebelum ia menjadi urat menjadi akar menjadi pisau
yang menikam jantungku.

Haruskah kubunuh rindu, sebelum ia menjahit kafan,
sebelum ia menjadi keranda menjadi kubur menjadi
pualam batu nisanku.

Haruskah kubunuh rindu, sebelum ia menjadi luka,
sebelum cabiknya kian nganga sebelum menjadi ingatan
menjadi kenangan menjadi perih di dada.

Haruskah kubunuh kata, setelah ia ada lalu ke tiada,
menjadi fana.

2019

Di Jalan Pulang, di Dalam Bus yang Sunyi

Di jalan pulang, di dalam bus yang sunyi, kubayangkan
dirimu duduk di sampingku, lalu kusimak kau berkisah,
tertawa atau menangis, dan diam-diam kubiarkan
kaurebahkan kepala lalu memeluk erat lenganku.
—lamat kudengar isakmu saja, atau tawa manja.

Di jalan pulang, di dalam bus yang sunyi, di bangku-
bangku lain orang-orang sibuk dengan pikirannya
sendiri, tapi aku sibuk mencari-cari, di manakah kau,
atau kau sengaja lupa pada janjimu, jika di detik-detik
perpisahan itu, aku ingin sangat dekat padamu.

Di jalan pulang, di dalam bus yang sunyi, aku seperti
kehilangan diriku sendiri, tanpa dirimu.

2019

Di Beranda Cangkir Kopimu

Kabar pertunangan, pernikahan, kelahiran dan
kematian berkelebatan di beranda cangkir kopimu.
berenang-renang di sisa ampas yang membekas dan
pekat kopimu menyurat lekat kemahabesaran-Nya.

Aku tersentak di sela keceriaan yang belum usai.
silang sengketa di meja makan yang kita tafakuri
sehari-hari hanya gurauan belaka, sementara waktu
telah sampai di titik nadirnya—mengibas putus mata
rantai dan berkeping-keping jatuh sansai menjadi
puing di lantai.

Lalu kepongahan apa yang harus kita pelihara jika
akhirnya semua ditanggalkan dan ditinggalkan,
bahkan kenangan sekalipun.

2019

Mengoyak Jarak

Bahkan senyum yang kautitip di musim-musim
gersang itu adalah kenangan paling duri. ia berpinak
serimbun kaktus yang tumbuh di gurun-gurun batu
dan angin membadai menerbangkan debu-debu yang
hinggap di bola matamu.

Kau menutup tabir itu, lalu kegelapan yang maha
selimuti semesta dan kehilangan harus diratapi
dengan zikir dan doa-doa.

Tak ada yang lebih unggun dari merelakan apa yang
telah lepas di genggaman dan tunas bernama cinta
biarkan tumbuh ke pucuk matahari—tanpa dipaksa
atau dikarbit sekian waktu.

Menjadi karanglah kaki yang terjejak agar ombak
tak kuasa mengoyak jarak walau sehasta.

2019

Pulang (2)

Kadang, pulang bukan untuk merentang jarak,

tapi mengikat ingatan agar kembali.

2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.