Sebuah Keluhan di Hari Guru

oleh -70 views

Cerpen A.R. Rizal

OESMAN sudah 30 tahun lebih menjadi guru honor. Sebentar lagi, tenaga laki-laki itu tak dibutuhkan. Tak ada batasan usia pensiun bagi guru honor. Hanya satu hal yang bisa menghentikan Oesman mengajar, yaitu penyakit asam urat yang dideritanya sejak muda.

Sungguh aneh, bagaimana pula Oesman bisa terserang asam urat. Kata orang-orang, itu penyakit orang kaya. Penyebab utamanya, makanan enak. Makanan enak apa pula yang bisa dibeli Oesman. Honornya cuma bisa untuk membeli segantang beras, ditambah sekantong plastik garam dapur. Makan nasi dengan garam sudah menjadi kemewahan bagi laki-laki itu.

“Pasti karena Bapak sibuk mengajar.” Suranti, sang istri punya praduga tentang penyebab penyakit Oesman.

Akhir-akhir ini jam mengajarnya berkurang drastis. Kurikulum baru yang merampasnya. Oesman percaya kepada Suranti. Kalau tak mengajar, laki-laki itu merasakan sakit di seluruh persendiannya. “Benar juga. Kalau tak hilir-mudik di depan kelas, kaki bapak ini suka kesemutan.” Oesman membenarkan kata-kata Suranti.

Perempuan paruh baya itu menggerutu. Oesman salah memahami ucapannya. “Jangan-jangan, Bapak diam-diam makan enak di sekolah.” Suranti membuat prasangka.

Raut muka Oesman langsung berubah. Ia mati ketakutan di hadapan Suranti. “Sumpah, Bu. Tak pernah Bapak makan enak di sekolah. Mau beli makanan pakai apa?”

“Kan banyak yang kasih traktiran.”

“Siapa?”

“Guru-guru muda di sekolah.” Suranti hanya menggoda Oesman.

Oesman membalas ucapan Suranti dengan kedipan mata. “Sebaik apa pun guru-guru muda itu, takkan bisa mengalihkan tatapanku padamu.” Oesman menirukan kutipan-kutipan yang dibuat siswa-siswanya yang lagi puber.

Begitulah. Perdebatan kecil sepasang kekasih yang sudah berusia lanjut itu berakhir dengan sebuah romantisme. Tak sehebat romantisme sinetron Korea, tapi itu lebih dari cukup bagi Oesman dan Suranti. Sudah bisa ditebak, di mana romantisme itu berakhir. Di bilik kecil yang dibatasi dinding bambu dengan ruang tengah. Tak usah bayangkan hal yang macam-macam. Apa pula yang bisa dilakukan sepasang kekasih lanjut usia di tempat itu, selalin rebahan sambil menahan perut yang mules. Perut tua Oesman tak sanggup lagi mencerna nasi bercampur garam.

***

WALAU dengan nyeri yang masih terasa di sekujur tubuhnya, Oesman memaksa diri mengayuh onthel tua ke sekolah. Laki-laki itu memang keras kepala. Padahal, Suranti sudah melarang. Cara perempuan itu melarang dengan boikot membuat sarapan. Oesman tak kehilangan nyali. Cukup dengan segelas air putih, ia siap bertarung menghadang dunia.

Tiba di gerbang sekolah, Oesman sadar tubuhnya tak lagi bisa diandalkan. Laki-laki itu menyeret onthel ke ruangan majelis guru dengan napas terengah-engah.

“Pak Oesman ditunggu ibu kepala sekolah.” Penjaga sekolah yang hendak memukul lonceng menyapa di depan ruangan majelis guru.

Setelah menambatkan onthelnya, Oesman beranjak ke ruangan yang lain. Ia bertemu dengan Martini di lorong kelas. Perempuan bertubuh tambun itu sedang melakukan inpeksi.

“Aha, bertemu juga dengan Pak Oesman.” Martini menyapa dengan canggung. Perempuan itu tampak ragu menyampaikan kata-kata tak enak buat Oesman. Terdiam dia sebentar, tak langsung berkata-kata. “Saya minta maaf, usulan kemarin tak bisa diteruskan. Nama Pak Oesman sudah digantikan dengan guru yang lain.”

Ini perkara pengajuan guru teladan tingkat kecamatan. Tak lama lagi Hari Guru. Setiap peringatan hari itu, guru-guru teladan diberi perhargaan di sebuah upacara bendera. Oesman diajukan sebagai guru teladan mewakili sekolah. Oesman merasa tak pantas mendapatkan penghargaan itu. Ia jauh dari memenuhi syarat.

“Siapa yang menggantikan?”

“Buk Arini.”

Guru muda itu, memang pantas sekali. Ia sarjana pendidikan. Sudah MPd pula. Sementara, Oesman hanya tamatan sekolah rakyat.

“Itu bagus sekali.” Oesman memuji Martini.

Martini tak enak hati. Ia merasa Oesman sedang menyindirnya. Martini sudah tahu akan menghadapi reaksi semacam apa. Karena itu, ia sudah menyiapkan sesuatu untuk menghibur hati Oesman. “Ada tanggung jawab besar yang lain untuk Pak Oesman. Saya harap Pak Oesman bersedia memikulnya.”

“Tanggung jawab apa itu?” Oesman tak pernah menolak pekerjaan.

“Ada perayaan kecil untuk memperingati Hari Guru. Pak Oesman jadi ketua panitianya.”

“Saya bersedia.” Oesman bersemangat.

Jadi ketua panitia itu adalah tanggung jawab besar. Namun, jerihnya tak banyak. Ada sedikit honor. Bagi Oesman, walau sedikit, sangat berarti baginya. Bukan itu yang paling diharapkannya. Setiap pekerjaan yang bisa dilakukannya di sekolah, itu yang penting bagi Oesman. Hakikat hidup adalah bergerak. Laki-laki tua harus terus menggerakan tubuhnya.

***

OESMAN pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Ketika ayam jantan belum berkokok, ketika matahari malu-malu di sela-sela daun kedondong. Mengenakan batik hasil pembagian tahun lalu, Oesman tampak gagah. Ia memimpin upacara. Setelah itu, ada sebuah perayaan kecil.

Siswa putri berbagi bunga dengan guru-guru perempuan. Siswa putra mendapat tugas mencuci kaki guru laki-lakinya. Perayaan kecil itu ditutup dengan seremonial saling menyuapi makanan. Bukan makanan mewah, cuma kerupuk. Martini memuji sebagai sebuah seremonial yang unik dan berkesan.

Bukan pujian Martini yang menyenangkan hati Oesman. Rupanya, siswa seisi sekolah sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk Oesman. Sejumlah siswa menggiring laki-laki uzur itu ke sebuah kelas yang tak lagi terpakai. Oesman harus menutup kedua matanya. Ia begitu berdebar-debar dengan kejutan yang sudah dipersiapkan.

Tralala! Ketika Oesman membuka mata, segerombolan orang yang menantinya di dalam kelas serentak berteriak. Balon diletuskan, terompet ditiup. Beberapa siswa perempuan meliuk-likukan tubuhnya seperti tarian koplo. Hari ini, Oesman berulang tahun.

“Sekarang, tiup lilinnya.” Martini memberi perintah.

Oesman tak pernah merayakan ulang tahun. Laki-laki itu tak terbiasa meniup lilin. Besar canggungnya. “Jangan aku, yang lain saja.” Oesman menolak perintah Martini.

Martini tak suka memaksa. Perempuan itu menoleh ke arah seorang guru muda. “Biar Buk Guru Arini saja yang mewakili.” Arini tersipu malu. Pandai sekali Martini menggoda guru muda itu.

Dengan malu-malu kucing, Arini meniup lilin. Bagi Oesman, itu semacam bonus yang akan disimpannya sendiri. Suranti tak boleh tahu.

“Makan kuenya.” Martini memberi perintah yang lain. Perintah perempuan itu diikuti sorak-sorai oleh siswa yang berkerumun di dalam kelas.

“Tak usah.” Oesman kembali menolak perintah. “Biar sebagian sisanya untuk kubawa pulang.” Tiba-tiba, Oesman teringat dengan Suranti.

Martini memasang muka memerah. “Setidaknya, Pak Oesman cicipi.”

Kali ini, Oesman segan menolak perintah. Laki-laki itu mencicipi sedikit kue besar yang ada di hadapannya. Nyam, memang lezat sekali.

Perayaan yang sempurna untuk Oesman. Laki-laki itu pulang dengan wajah berbunga-bunga. Sambil mengayuh sepeda onthel, ia pulang ke rumah dengan sejinjing kue ulang tahun. Lelah kakinya tak dirasakan. Laki-laki tua itu sampai lupa kalau honornya ditunda tiga bulan ke depan. Menunggu anggaran baru di kabupaten. Bagi Oesman, semua itu tak jadi masalah. Satu hal yang dikeluhkannya adalah soal asam urat yang kembali kambuh. Pasi gara-gara mencicipi kue ulang tahun.(*)

Padang, November 2019

Biodata:
A.R. RIZAL. Lahir di Padang. Jurnalis yang menyukai menulis fiksi. Novel-novelnya Maransi dan Perempuan Batih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.