Persepsi Mengenai Sistem Full Day School

oleh -95 views
Persepsi Mengenai Sistem Full Day School

Oleh Silvi Haryanti

TRAVESIA.CO.ID – Full Day School merupakan  sistem pembelajaran yang pada umumnya ditemukan di sekolah yang berbasis Islami, sistem pembelajaran ini banyak ditemukan pro dan kontra dalam penerapannya. Seorang Ahli psikologi anak, Vera Hadiwiddjojo menyarankan pemerintah untuk tidak menjalankan kurikuler sebagai istilah terbaru pengganti Full Day School, karena akan mengurangi keleluasaan anak dalam melakukan hal yang ia suka. Anak belajar kehidupan tidak hanya disekolah tetapi juga dilingkungan lainnya seperti di rumah.  Selain itu program Full Day School tidak membantu  orang tua, karena program  ini mengambil alih peran orang tua bukan memberdayakan peran mereka dalam kehidupan anak.

Fuul day school merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari tiga kata, yaitu full-day-school. Secara perkata dapat diartikan full yaitu penuh, day berarti hari, dan school berarti sekolah. Pengertian Full Day School (FDS) adalah sekolah sepanjang hari penuh atau bisa disebut dengan proses kegiatan belajar mengajar (KMB) yang dilakukan sejak pukul 06.45-15.00 WIB.

Yang pada intinya sistem pembelajaran full Day School merupakan sistem pembelajaran dimana siswa lebih banyak menghabiskan waktu disekolah, penuh dari pagi hingga sore yaitu dari pukul 06.40-15.00 WIB. Jadi dengan sistem pembelaran seperti ini aktivitas anak akan lebih banyak dihabiskan di lingkungan sekolah dari pada di rumah. Mulai dari kegiatan belajar, bermain, makan, termasuk berinteraksi. Penerapan sistem pembelajaran Full Day School pada umumnya terdapat pada sekolah Islam Terpadu, karena materi atau kurikulum yang padat jadi dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengajarkan materi tersebut.

Dengan sistem pembelajaran Full Day School orang tua tidak lagi  mengkhawatirkan anaknya terkena dampak lingkungan karena anaknya berada seharian disekolah, dengan kata lain ada yang mengawasi anaknya yaitu para guru.

Menyekolahkan anak adalah kewajiban orang tua. Tujuan terbesar orang tua untuk menyekolahkan anaknya agar sang anak memiliki karakter. Salah satu sekolah yang dipilih orang tua adalah sekolah yang menerapkan sistem Full Day School. Namun sebagian alasan mengapa anak disekolahkan di sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran Full Day School adalah karena kesibukan atau pekerjaan orang tua. Itu semua memang dapat dimaklumi, tapi apapun alasannya, orang tua merupakan pendidik pertama bagi anaknya, dan Orang tua memiliki tanggung jawab yang penuh dalam membentuk karakter anaknya sendiri.

Penerapan sistem pembelajaran Full Day School banyak terdapat kelemahan-kelemahan. Salah satu kelemahan dari penerapan sistem pembelajaran ini adalah hilangnya waktu sang anak untuk bersosialisasi dan bermain karena kesibukan dihabiskan untuk belajar.

Jean Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif muncul dalam empat tahapan yang universal, berbeda secara kualitatif. Pada masing-masing tahapan, pikiran seorang anak mengembangkan cara baru beroperasi.

Perkembangan kognitif dimulai dari bagaimana kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Perkembangan kognitif itu sendiri merupakan hasil upaya anak bagaimana untuk memahami serta bertindak didunia mereka. Yang pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa apa yang dipahami oleh anak akan membentuk sebuah perilaku.

Jean Piaget menjelaskan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Anak kecil memilki rasa ingin tau bawaan dan secara terus-menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tau ini berdasarkan keterangan Piaget, memotivasi mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati.

Sistem Full Day School ini  bertentangan dengan teori Lev Vygotsky. Vygotsky Berdasarkan teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya. Keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung, informasi tentang alat-alat, keterampilan-keterampilan hubungan interpersonal kognitif dipancarkan melalui interaksi sosial langsung dengan manusia.

Vygotsky dalam teori sosiokulturalnya dimana inti dari teorinya yaitu bahasa yang membantu seseorang dalam belajar dan bahasa itu muncul dari bagaimana sang anak berinteraksi dengan lingkungannya. Vygotsky ini memusatkan perhatiannya pada berbagai proses sosial dan budaya yang membantu proses kognitif anak-anak. Ia lebih menekankan keterlibatan aktif anak-anak dengan lingkungannya (interaksi), karena  dengan berinteraksi, anak bisa memperbaiki pemahaman mereka.

Jadi, dalam penerapan Sistem Full Day School ini atau sekolah sehari penuh, dimana anak lebih banyak menghabiskan waktu disekolah dari pada dirumah. Sistem ini sangat mempengaruhi kebebasan anak dalam melakukan hal yang ia suka, seperti bermain, karena sebagian besar waktunya dihabiskan secara formal. Selain itu, penerapan sistem Full Day School ini mempengaruhi peran orang tua, seperti dengan alasan kesibukan, orang tua menyekolahkan anak di sekolah yang menerapkan sistem Full Day School, suatu hal yang harus diketahui oleh orang tua adalah selain sekolah, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya, karena orang tua merupakan lembaga yang utama dan terutama bagi proses awal pendidikan anak-anak, fungsi dan peran orang tua tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan fisik seperti makan, minum dan lain sebagainya, tapi lebih besar dari itu yaitu berupa bimbingan, motivasi, perhatian untuk masa depannya.

 

Silvi Haryanti, Mahasiswa Prodi Psikologi Islam, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama-Agama, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahem, Zaitur. 2017. Dampak Sosial Pemberlakuan Full Day School (Menimbang Mafsadat-Maslahat Permendikbud 23/2017 dan Perpes 87/2017). 3(1): 5

Agustinova Eko Danu. 2015. Hambatan Pendidikan karakter disekolah Islam Terpadu Studi Kasus SDIT Al- Hasna Klatem. 12(1): 17

Agustinova Eko Danu. 2015. Hambatan Pendidikan karakter disekolah Islam Terpadu Studi Kasus SDIT Al- Hasna Klatem. 12(1):16

Papalia, Diane. 2013. Human Development Perkembangan Manusia. Jakarta: Selemba Humanika

 

KASUS :

Full Day School: Ini Dampak Buruknya Bagi Anak dari Kacamata Psikolog

Oleh :Vera Hadiwidjojo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.