Sajak-sajak Sahaya Santayana

oleh -264 views
Sajak-sajak Sahaya Santayana

DESI MARDIANA 36

 

Di antara debur dan buih ombak

Aku tak menemukan namamu

Kesepianku semakin berlayar

Juga puisiku menulis pencarian

 

Lena aku membayangkanmu

Sementara senja kita masih bersembunyi

Dengan waktu yang kian menghampar

Angin membawaku tak berujung

 

Di antara debur dan buih ombak

Aku tak menemukan namamu

Yang telanjur karam di palung kalbu

 

Hari-hari adalah pengelanaanku yang asin

Sementara pelukanku ada padamu

Di sela-sela hijrah yang meluas rindu

 

Tasikmalaya, 2019.

 

DESI MARDIANA 37

 

Di sungaimu yang bercabang

Langkah mendayung keyakinan

Yang pelan dalam ketenangan sunyi

Menyampai-raih susuri suasana

 

Menuju kuala yang rindang keindahan

Dimana perahu-perahu kembali meditasi

Setelah mengarungi sanubarimu

Luas seakan tak bertepi ujung hari

 

Tangan-tangan ranting dan akar waktu

Adalah sampuran bisu yang menyebar

Di pertemuan kita yang jauh menyekat

 

Tapi aku menyambutmu dalam ingatan

Yang membayang-labuh di Semenanjung

Cerita yang kembali dipertemukan usia

 

Tasikmalaya, 2019.

 

DESI MARDIANA 38

 

Bahkan aku sekalipun tak pernah

Berpaling lain pandang melain engkau

Di tepi kerindang senja yang pulang

Memanjang garis kita di hamparan pasir

 

Bahkan akupun tak berani pernah

Meninggalkanmu sendiri di atas perahu

Labuh bertaut ikrar mendampingimu

Walau diri lama dirantaukan puisi

 

Ombak yang melambai lembut

Tak hentinya mengajak dalam bahasa debur

Kejauhan kita: debu dan buih rindu

 

Engkau adalah permulaanku di awal baris tulisan

Pun aku bukanlah selamat jalanmu yang terakhir

Diucapkan sendumu di antero tungguan-temu

 

Tasikmalaya, 2019

 

DESI MARDIANA 39

 

Bahkan aku membuka lapang

Labuhanku untukmu bersandar

Yang sejenak mestinya kita saling bertukar

Kenangan yang dibongkar-muat waktu

 

Namun raga masih menunggu

Setiap hari adalah menanti kata-kata

Tepat di semenanjung segara hatimu

Aku temukan kegelisahan melulu lewat

 

Telah aku maktubkan sinyal ke dalam tulisan

Di dermaga ombak mengalun hentak tak henti

Sambung dimaknai ulang menjadi sajak angin

 

Di antara penantian dan rintihan kalbu

Jerit mendebur (sem)bunyi di endap kedalaman

Yang bertuah di persikuan perairan hatimu

 

Tasikmalaya, 2019.

 

DESI MARDIANA 40

 

Di sela Segara hatimu

Aku menyusuri Selat perenungan

Memilih keheningan untuk sampai padamu

Lewati jalur sebagai puisi yang menggaris

 

Aku berangkat tapi tak tahu kembali kapan

Selama kesendirian dipisahkan pergi sejenak

Senja selalu menitipkan kita berpeluk

Jarak yang kian hari kian mendebur luka

 

Di sela Segara hatimu selalu kubaca

Tentang pesan yang lewat oleh angin atau

Cuaca yang tak pernah dibalas kedatangan

 

Tapi perasaanku berat menyandar di pulau lain

Namun Cakrawala matamu tumbuh menuntun

Dalam teduh ketenangan yang tenang

 

Tasikmalaya, 2019.

 

Sahaya Santayana Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Desember 1995. Menulis sejak Tahun 2014 di Sanggar Sastra Tasik (SST), di samping itu juga Aktif melakukan kegiatan Satu Jam Sastra di Taman Kota Tasikmalaya. Dan beberapa karyanya pernah dimuat Di H.U Kabar Priangan, Radar Tasikmalaya, H.U Rakyat Sultra, Kuluwung.com, Koran Merapi, Magelang Ekspress, Solopos, Radar Banyuwangi, sastra-indonesia.com, tembi.net, Radar Bekasi dan sekarang tinggal di Kota Tasikmalaya.

One thought on “Sajak-sajak Sahaya Santayana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.