Sajak-sajak Sha

oleh -131 views
Sajak-sajak Sha

BUAH CINTA DARI RAHIM DOA

Malam adalah siang
Tangis adalah tawa
Letih adalah riang
Perih adalah bahagia

Dari rahim ibu
Menarilah letih dan lelah
Dalam sayup-sayup senandung kalbu
Pada pucuk-pucuk rindu nan putih

Dia terbaring di atas punggung bumi
Pasrah, tanpa sehelai kain
Dia menangis dan tertawa
Adalah makna yang serupa

Halaman terlipat telah terbuka
Kertas putih tanpa noda
Tanpa satu pun corak warna
Kelak, dunia akan menggodanya

Barabai, 15 Oktober 2019

 

MAHONI

Ratusan tahun masa silam rambutmu rindang, sekawanan burung kerap menggodamu dengan nyanyian merdu di sela embun yang berjatuhan

Namun, kini kekasih yang kau tunggu tak juga kunjung datang. Kulitmu melepuh jenggot dan rambutmu memutih

Ada senja yang kian menjalar di kakimu. Lantas mulut keriputmu berujar “hidup segan matipun tak mau”.

Barabai, 2 November 2019

 

ISYARAT RINA

Kulihat dari penghujung mataku yang samar. Dia berlarilari kecil sambil mengibaskan selembar uang berlatar seorang penari Gambyong

Sepi, tanpa sepatah katapun dan aku menatapnya dalam ruang kebingungan. Kedua tangannya memegangi kepala sambil menggerakan ke kanan dan ke kiri

Mataku mengecil dan menelaah kamus tafsir bahasa tubuhnya. Tetapi tetap saja otakku gagal membacanya

Pada akhirnya dia membenturkan kepalanya ke dinding, terlihat meringis seolah menjerit dan mengaduh
Ooo, Paramex

Barabai, 31 Juli 2019

 

MUSAFIR

Di antara deburan ombak
Kutanya, siapa diriku?
Setelah berdialog dengan jurang yang berlagak
Lantas, aku pun tak menemukan namaku

Dari rahim ferri
Dia masih menunjuk dadaku yang kerontang
Langit tampak bernada sepi
Tanpa jejak-jejak bintang

Dini hari hampir tiba
Sayup-sayup sang fajar menata subuh
Awan hitam mengulum tawa
Dingin merayap membelai tubuh

Banyak alamat menuju kota
Siapakah dirimu? Yang tersesat dalam belantara
Siapakah dirimu? Yang mengaku dekat dan ingin bersua
Kau hanyalah musafir yang terperangkap di jantung rimba

Barabai, 30 Oktober 2019

 

LEMBAR SUHUF ANAK MANUSIA

Seperti hari-hari yang telah lewat
Kita hanya diam dan saling menatap dalam etalase kolom-kolom angka

Menelaah setiap jengkal lembaran suhuf anak manusia
Hingga membias beragam wajah pada koredor imajinasi

Menghitung setiap mentari yang terbit di bibir
Membaca mendung dan mendengar jerit perjalanan hidup

Di pelataran langit, ada yang sendiri, berdua hingga menua
Dan ada yang mendua hingga lupa ikrar janji suci

Biarkan bayu meneduhkan hujan di pipimu senja
“Aku tak tahu ibu di mana, dan ayahku hanya ada dalam mimpi”

Sungguh ironi, ketika mega putih telah tergadaikan
Masih bisakah kita memaknainya dengan sebuah hakikat cinta?

Tawa adalah irama yang nikmat. Tapi, ketika kau selami dan pahami hakikat liriknya
Saat itulah hujan menggenang di pelupuk mata

Barabai, 9 Juli 2019

SHA adalah perempuan kelahiran dan berdomisili di Barabai, Kalimantan Selatan ini mengaku telah jatuh cinta dan menyukai sastra sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah dan saat ini ia tengah menyenyam pendidikan di STAI Al-Washliyah sambil sesekali belajar menulis puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.