Dari Novel ke Buku Puisi, D. Iskandar Rilis ‘Gadis Bermata Biru Laut’

oleh -248 views
Dari Novel ke Buku Puisi, D. Iskandar Rilis ‘Gadis Bermata Biru Laut’ 1
PENULIS buku puisi 'Gadis Bermata Biru Laut', D. Iskandar. (Foto: IST.)

TRAVESIA.CO.ID – Novelis yang juga pegawai negeri di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, D. Iskandar (Dahrial Iskandar) merilis buku puisi terbarunya, Gadis Bermata Biru Laut yang akan terbit di pengujung 2019.

Sebelumnya, ia dikenal lewat novel berjudul Ketika Ombak Menderu dan Jerat-jerat Lokalisasi serta sejumlah buku bersama lainnya.

Sebagai penulis yang sehari-hari bergelut dengan ribuan buku di perpustakaan megah di jantung Kota Pekanbaru itu, D. Iskandar ingin terus produktif berkarya.

Bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Riau, ia ikut menulis di buku Antologi Dua Warna, Puisi Munajat Sesayat Doa Riwayat Asap, dan Puisi Hijau.

Tidak sampai di situ, tiga puisinya masuk dalam kumpulan puisi Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019, dua puisi masuk antologi Membaca Asap 2019 dan masuk puisi Pasaman. Cerpen-cerpennya juga pernah dimuat sejumlah suratkabar.

Penulis yang lahir di Meskom sebuah desa yang berada di Bengkalis, 5 Oktober 1970 ini, aktif di FLP dan tunak di @Community Pena Terbang (COMPETER).

Dari Novel ke Buku Puisi, D. Iskandar Rilis ‘Gadis Bermata Biru Laut’ 2
BUKU Puisi ‘Gadis Bermata Biru Laut’ karya D. Iskandar. (Foto: Salmah Publishing)

Terkait buku puisi Gadis Bermata Biru Laut karya D. Iskandar yang terbit di Penerbit Salmah Publishing (Divisi Penerbitan Salmah Creative Writing) itu, sejumlah penulis Riau memberi komentar.

“Rindu rumah, haru nasib yang pilu, perempuan-perempuan yang menjajakan dirinya, menjadi lazim melintas di hadapan mata, juga menjejak dalam kepala. Maka, semangat atas usia yang kian senja, adalah sebuah senjata yang harus kita akui, dan ada beberapa puisi yang saya suka endingnya,” ujar Muhammad Asqalani eNeSTe, Pendiri Community Pena Terbang (COMPETER).

Menurut Penyair DM Ningsih, “membaca sajak Dahrial Iskandar kita menemukan kemasan elok kegelisahan terhadap kehidupan, catatan kerinduan dan luka yang berbalut bahasa ungkapan yang ringan dan dalam maknanya,” ujarnya.

Sementara Eko Ragil Ar-Rahman, editor buku puisi itu, puisi-puisi di buku Gadis Bermata Biru Laut membawa ruh roman dan perempuan yang dikemas dalam diksi sederhana dengan sentuhan ciri Melayu sehingga menjadikan buku itu membuka pemahaman bahwa puisi tidak selalu terikat rima.

“Kita dibesarkan oleh cerita, dan puisi-puisi Dahrial Iskandar kembali mengajak kita menemui mereka kembali,” ulas Eko. (nah/travesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.