Bahasa Sebagai Pemersatu Bangsa

oleh -58 views
Bahasa Sebagai Pemersatu Bangsa

Oleh Indra Hardianto

 

TRAVESIA.CO.ID – Bahasa adalah adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan munggunakan tanda seperti kata atau gerakan. Manusia sebagai makhluk sosial mebutuhkan sarana untuk berinteraksi dengan manusia lainnya oleh karena itu dibutuhkan bahasa untuk berkomunikasi.

Di indonesia terdapat banyak bahasa daerah, menurut Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan menyatakan, berdasarkan data terakhir tahun 2017 Indonesia memiliki 625 bahasa daerah. Setiap bangsa atau suku memiliki bahasa yang berbeda-beda, hal ini bisa menjadikan bahsa sebagai identitas dan keunikan tersendiri bagi suatu bangsa atau suku.

Bahasa indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Dimana para pemuda dari seluruh pelosok Nusantara berkumpul dan berikrar Sumpah Pemuda dengan bunyi “kami pemuda Indonesia bersumpah menjunjung bahsa persatuan,bahasa Indonesia”. Kemudian sehari setelah kemerdekaan tanggal 18 Agustus 1945 bahasa indosnesia menjadi bahasa negara yang terkandung dalam UUD 1945 pasal 36.

 

Berikut fungsi bahasa sebagai bahasa negara :

  1. Sebagai bahsa resmi kenegaraan.
  2. Sebagai bahsa pengantar dalam dunia pendidikan.
  3. Sebagai alat penghubung di tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan perencanaan dan peaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah.
  4. Sebagai alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

 

Di Indonesia meiliki banyak bahasa daerah, oleh karena itu perlu bahasa pemersatu yang mewakili berbagai bahasa daerah tersebut. Bahasa ini di sebut bahasa resmi, yang digunakan sebagai sarana berkomunikasi yang dimengerti semua masyarakat.

Posisi bahasa Indonesia diidentifikasikan menjadi bahasa pemersatu suku, agama, ras, dan antar golongan dari sabang sampai merauke,oleh karen itu penting bagi kita melestarikan bahasa Indonesia dan bangga berbahasa Indonesia, akan tetapi jangan pernah melupakan bahsa ibu yaitu bahasa daerah.

 

Indra Hardianto, Mahasiswa Prodi Psikologi Islam, UIN Imam Bonjol Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.