Puisi-puisi Dody Kristianto

oleh -63 views
Dody Kristianto

Perihal Memaku Dinding

 

Dari kegembiraan kita menepi.

Dari hingar kita sunyikan jalan.

Gelap datang. Menyatu dan menyaru

Sebagai sisa-sisa perlawanan.

 

Kita perbanyak pula ketelitian

Meraba. Kita tirakat pada malam

Yang mahir menyembunyikan celah.

Yang rompal, yang rata, yang timpang,

Yang datar-datar.

 

Semua tak terbaca. Semua tenggelam

Dalam timpal sederhana. Maka lepas doa

Di tiap ketukan. Jangan gemar meninggalkan

Gema. Gegar satu dua tiga yang terarah.

Jantung liyan tersembunyi siap menerima.

 

Meski kita tak tahu bagaimana membaca

Gelagat perasaannya.

 

(2017)

 

 

Tentang Menata Ubin

 

Ia tenang agar tak bimbang

Yang kanan dan yang kidal.

Awalan awas menyasar

Bidang-bidang di pandangan.

 

Tak gegabah ia lepas sembarang

Hentak seperti saat kamu

Melepas kuda-kuda serempak

Bagi si kadal kurap. Benar-benar

 

Ia berkhidmat di hadap ketenangan.

Semesta uratnya lajur tak gamang.

Antara pelan dan tergesa, antara

Lambat dan segera. Semua berima,

 

Jalin menjalin, dan tak goyah. Jeda tipis

Ia beri bagi peruntungan yang tiba tiba-tiba.

Ia tentu ukur dengan rata. Agar semili

kenangan tak sampai tertinggal di tanah.

 

Serta sawan silam tak sembarang

Hambur di halaman. Akan ia lapis

Mereka dengan saksama: anasir licik

yang menyimpan kekacauan.

 

(2017)

 

Mason

 

Agar yang tak bidang dan tak presisi

Menyerimpung diam-diam, kau betulkan

Letak pijak di palagan rapi ini.

Tanganmu yang cekatan mengulet lagi

 

Mengudek pati-pati bumi. Hingga kalis.

Sampai tak tampak lagi dari mana mereka

Berasal dan bagi siapa mereka datang.

Siaga pula pandanganmu. Mantap kekukuhan

 

Pegangan tanganmu. Lalu mekar bareng debu-debu

Sekitar hingga anasir paling kecil tumpas libas

Dalam satu adonan lepas. Matamu patut pula waspada

Dari pancingan gasal yang menyeruak tiba-tiba.

 

Satu godaan membayang lekas mengubah

Batu rata itu tak sepadan. Lebih-lebih bila

Yang sekejapan menantang si orang bunian,

Si penghuni asal yang tak terima tanah pijakan

 

Berpindah tangan.

 

(2017)

 

Ikhwal Mengaduk Semen

 

Kuda-kudanya menggenggam

yang tak tampak.

Lalu ia himpun butir-butir

semenjana hingga rata

dalam satu semesta.

 

Semesta yang bisa lebar,

mutar, hingga muntir

sampai berdepa jarak. Ia tahu

yang di depannya tak abadi.

 

Maka, penyatuan inilah itikad

meredam gejolak diam-diam.

Gejolak lobang yang memapar

tantangan. Gejolak batuan yang

ingin lepas dari kekang.

 

Ia tata rumpang-rumpang

kurang ajar. Yang halus yang kasar

leburlah dalam kegemingan,

hinggaplah pada tangan yang

takkan mengabadikanmu dalam sajak.

 

(2017)

 

Menundukkan Martil

 

Tangan kanan yang gemetar itu

kau cemaskan.

 

Sebab perilaku ini bukan tentang

adab menengadah serta meminta.

 

Yang kau perlukan membuatnya

tenang, tak gamang memegang

serta menggenggam.

 

Lenturlah urat-uratnya.

Lemah lembutkan supaya

tak sesat laju darah berkumpul

dan memucuk dalam satu tuju.

 

Ia yang kau arahkan ke dada

lawan patut mendaras

ikhwal lain.

 

Perihal pelan yang mengantar

beban menuju satu lubang

penghabisan.

 

Kau perlu pula buka kitab

keseimbangan. Agar yang kiri itu

benar-benar tak gentar menerima

berondongan beban berlarat-larat.

 

Biar pula tertata tabahnya,

menikmati sesekali lebam

yang bertandang.

 

(2017)

 

 

Pelajaran Menghantam Batu

 

Kelihaian ilmu pedang sekejap hilang di depan

geming perlawanannya. Tentu saja pantang

 

mentang-mentang menantang dengan bekal

ketajaman belaka. Tak becus gelagat bergelut

 

sebab ini bukan tentang menaklukkan. Yang kau

lakukan adalah meyakini petuah resi kelembutan.

 

Ia yang maha meleraikan batu segala batu pun

koral pelbagai koral. Tanggalkan pedangmu. Beralihlah

 

memaknai ketumpulan godam. Ia setia pada diam

serta hanya menunggu genggam melantunkannya

 

lagi menuntunnya ke hadapan sanubari batu-batu.

Jangan pula sembarang memulakan dendang.

 

Tak mudah rengkah apabila madah memisah tak

ditiup pada keras permukaan. Lafalkan segala ujaran.

 

Pantang luput bahasa disiapkan. Bila sempurna benar

laku-laku awalan, segerakan menghantar. Hantar

 

yang teratur. Tak melantur. Dengar saksama rima

ketukan. Mulakan dengan pelan, menanjak sedang,

 

hingga langgam paling bingar. Ingat, jangan sampai

menyimpangi rima tutukan. Serasikan ketegapan badan,

 

daya berkitaran, sampai angin bersiutan mengiringimu

menuju hatinya, kerahasiaan yang bakal pecah.

 

(2017)

 

 

Ritual Mengiris Bawang

 

Terlentanglah kau dalam kesempurnaan.

Dengan awalan pas semesta. Tak tertarik

ke barat tak tertakik ke timur. Dan bersih

isi diri sebersih talenan menghampar

 

memasrahkan diri. Lalu, kulemahkan pula

tangan kiri kanan. Kugemulaikan urat-urat

di sekitaran, urat yang api, urat yang alir,

urat ringan, urat berat, urat-urat yang terulur

dari atas ke bawah.

 

Pun jangan pula silap tangan menggenggam

Pisau pemisah daging. Pisau kilau bermadah

pengupak gelambir-gelambir galau. Pasti

kutuntun tatap kepada pisau sederhana.

 

Yang tampil biasa-biasa tapi terampil memilah,

pun memisah yang gumpil menipu mata. Tak

luput pula hidung harus tertutup sempurna.

Biar uap-uap pergolakan tak gampang menemu

 

celah pun lubang makar. Agar makin rahasia

perjuangan menuju puncak kenikmatan, kukuduskan

dahulu tubuh terpendamnya dari kulit-kulit ari

yang halus sempurna namun mahir menghadang.

 

Jangan sampai kaki ini bergeser dan beranjak

dari titik pijak berada. Teguh, kukuh, sebagaimana

akar tegap menopang batang. Aku maju segera.

Ucap kalimah pertama. Biar tak sasar pisau

menuju tujuan. Biar tak khilaf jemari mengganti

 

pengorbanan bawang.

 

(2017)

 

Itikad Mengaduk Semen

 

Sebagai juru ingin kumuliakan engkau

dalam pergumulan nan lembut. Tak perlu

 

kau terkapar dengan segala kehinaan sekitar

sebab takdirmu kutentukan sebagai karib

 

penyatuan. Dari sanubari kubisiki kau

biar rebah, telentang, melumah, atau tengkurap.

 

Kujaga pula dari segala yang membuat kau

berlebih melepas gaya-gaya perlawanan.

 

Tanganku ini pun luluh lebur dalam kelam,

memerimu sebagai zirah hangat yang tak

 

ditembus hujan, atau jadi penghalang yang

sabar bagi tenung nyasar di halaman depan.

 

Bersabarlah bila kulimpahkan air ala kadarnya.

Jangan rasa dingin pada setiap adukan. Kesiur

 

angin kian mensyahdukan pati-patimu yang

menubuh dengan pelbagai renik kasar. Sebab

 

seteru kita di depan  ialah cecunguk yang tak

kasat, yang ditata oleh ketabahanmu dan itikadku.

 

(2017)

 

Pemanasan

 

Rentang tangan pelan-pelan.

Beri perkenan laju darah nyambar

urat-urat biar mekar. Tengok

kepala ke kiri ke kanan. Pastikan

 

yang gaib tak turut ambil bagian

dan tak menyelinap ke barisan.

Angguk pula ke atas bawah.

Hembus serta napas sisa keluar.

 

Hirup udara segar biar badan

tak gegar menenggak perintah

dadakan nan macam-macam.

 

(2017)

 

Demi Gemu Famire

 

Putar ke kiri e
Nona manis putarlah ke kiri
ke kiri ke kiri ke kiri dan ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri

manis e

 

Demi melaju kiri lupakan sejenak gerak berat.

Ikuti arahan dendang. Tetap santun mengucurkan keringat.

Satu kaki pasti tegap tak ubah koordinatnya. Satu

 

Lainnya geser pelan, tapi tak lamban, hinggap ke lain

Bidang. Lajur kesatu terbuka, darah mengalir, bergulir

Kencang, jantung pompa segala kejenuhan keluar.

 

Akan terusir yang tak pantas bersarang di badan.

Akan dimuntahkan racun pengganyang sendi-sendi

Badan.

 

Sekarang kanan e
Nona manis putarlah ke kanan
ke kanan ke kanan ke kanan dan ke kanan ke kanan ke kanan ke kanan

manis e

 

Bila rima kidal selesai sengketa dan perlawanannya,

Tinggalkan sebagai noktah sejarah. Sebab setiap

Gerak pasti berbalik pada lajur yang benar.

 

Lajur kedua, ketiga, dan seterusnya yang  masih diiringi

Ingar bingar. Tetap tatap tak beralih dari si pemeraga. Ia

Penuntun semua ketenangan yang menubuh dalam langgam.

 

Pasti muslihat menyerimpung tak cukup cakap menyimpanginya.

Karena putaran kakimu, lantunan tanganmu, gelengan kepalamu

Masih tak serima, masih makar dari padu padan keutuhan senam.

 

(2017)

 

 

Masuk Inti Senam

 

Bentangan tangan simetris

Sambut sinar pagi. Jadi

Spektrum yang pecah

 

Tembus badan. Biar

 

Yang tak tahan pancaroba

Menggalang selubung

Penghalang. Rutin

 

Rentangkan tangan. Beri

 

Perkenan gerak darah

Menguatkan jantung.

Agar tak lambat. Agar

 

Lekas regenerasi. Pati-pati

 

Mati di sendi. Inti ialah

Mengupak semua galat,

Semua lambat, semua zat

 

Tak laik gerak. Tak usah

 

Gubris goda penggoda.

Laju lanjut saja. Sembari

Rela satu dua helai bulu

 

Ketiak tanggal ke tanah.

 

Biar dada ditabrak udara

Pagi. Biar keringat

Berganti. Lingsir sendiri.

 

(2017)

 

Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 3 April 1986. Saat ini tinggal dan bekerja di Serang, Banten. Bergiat bersama Komunitas Kabe Gulbeg.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.