Sajak-sajak Anjrah Lelono Broto

oleh -255 views
Sajak-sajak Anjrah Lelono Broto

Anjrah Lelono Broto, tinggal di Trowulan-Mojokerto. Aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa (berbahasa Indonesia dan Jawa). Di antaranya Media Indonesia, Lampung Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Harian Surya, Harian Bhirawa, Banjarmasin Post, Surabaya Post, Surabaya Pagi, Duta Masyarakat, Solo Pos, Wawasan, Pikiran Rakyat, Nusantaranews, Jendela Sastra, IdeIde, Litera, Kawaca, Pojok Seni, Galeri Buku Jakarta, Roemah Cikal, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Kidung (DKJT), dll. Beberapa puisinya masuk dalam buku antologi bersama Pasewakan (Kongres Sastra Jawa III, 2011), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi Lesbumi Jatim, 2014), Malam Seribu Bulan (antologi puisi Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, 2015), Margasatwa Indonesia (Lumbung Puisi IV, 2016), Klungkung Dalam Puisi (Dewan Kesenian Klungkung, 2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (2016), Sang Perawi Laut (2018), Tamasya Warna (2018), Kunanti di Kampar Kiri (Hari Puisi Indonesia-HPI Riau, 2018), When The Days Were Raining (Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019), dll. Karya tunggalnya adalah Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerkak, 2015),  “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017), dan Permintaan Hujan Jingga (antologi puisi, 2019). Terundang dalam agenda Muktamar Sastra (Situbondo, 2018), dan karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Sekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA). Tinggal di Dsn. Sukoanyar, Ds. Wonorejo, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto

 

RISAU BERANAK TABUNG

 

Nak, kalian melemparkan pinangan dhuwur

sebelum kelapa tumbuh janur

di batang langkah yang belum terukur

padahal tak sejengkal ayun cangkul kalian ulur

sebab selama kalian makmur

di depan tabung, kami mengurai julur

agar kalian ditimang kenyang dan nyenyak tidur

 

tabung-tabung itu seperti hujan

jatuhkan rayuan lalu kalian meminta bintang

seakan bumi hanya mainan

 

sementara, kami beranjak menua

kalian pun tumbuh dewasa

tabung-tabung itu pun kian memanja

kebermaknaan tegur sapa samar lalu musna

tengadah pun perkasa bersinggasana

 

kami merasa mangkat walau masih ada hayat

sebab bintang belum juga mampu kami semat

 

 

September, 2019

 

ARUNIKA

 

aku sedang tak berbicara dengan diri sendiri

kala penonton ramai namun panggung sepi

aku mengerti kalian mengerti

 

aku adalah akar bagi orang tercinta

di sudut bumi mana saja’

aku bacakan puisi tentang arunika

 

sebab aku adalah akar

kalian adalah sabit

aku akan terus menjalar

kalian hanya menjerit

 

aku selalu biarkan diri kuyup oleh hujan

sebab akar juga punya dahaga seperti bulan

inginkan sinar surya sebagai pantulan

 

bila kemudian di dinginku

tanah gigil, orang-orang berdiri ngilu

aku katakan

; akulah akar yang menghangatkan semesta-Nya

 

Oktober, 2019

 

 

PETUAH

 

ada baiknya

engkau sejenak berdiri

 

berhenti menulis puisi

sebab putaran perjalanan bumi

tak berhenti

walau sejenak untuk membacanya

— meski dalam hati

 

Oktober, 2019

 

SEJAK ITU

 

sejak angsana di matamu

tumbang karena badai

binar wajahmu hanya serupa legenda

dikisahkan bersenandung lelah

di masa-masa jelang rebah

 

menyusuri sisa-sisa binar

seakan membaca mantra tuna makna

hanya suaranya merdu meruyak telinga

lalu kesah demi kesah

membuat semuanya kembali jenaka

di timangan bunda

 

kehilangan kian meraksasa

menjulang tinggi lewati batas imaji

dan kian terasa

saat mata beradu sua sesekali

; sebab angsana itu tiada lagi

 

sejak itu

dedahan hijau angsana

di samping rumah juga kehilangan

(kita)

 

November, 2019

 

SEHIJAU DAUN

tentang perempuan yang melahirkanku

 

seringkali kita jumpai berlembar daun

terikat di dahan segar mengembang

juga ada yang kering hanyut tanpa taring

lalu tinggal kisah terhempas angin

 

sehijau daun, perempuan pun

mengerling, kala kehijauan masih turun

para lelaki sudi menjilati embun

satu demi satu tanpa ampun

 

namun

ketika hijau pamit beriring usia

tiada terperi, tiada terkira

perempuan lalu dipaksa

menelan mentah kursi singgasana

pelengkap kisah klasik, mitos, dan legenda

dipuja tapi tak dikecup mesra

seperti waktu muda

 

November, 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.