Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 6)

oleh -47 views
Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 6)

JAKARTA- SYDNEY

Air Port Antar Bangsa

Bandara Sukarno- Hatta tentu saja merupakan bandara modern dan terbesar di Indonesia. Usai mengambil koper pada bagasi counter, kami segera keluar untuk menemukan toilet dan musholla buat sholat zuhur- pengganti sholat Jum‘at dan melakukan sholat jamak zohor dan ashar. Kami selanjutnya beristirahat dan ingin menikmati makanan siang (lunch) pada gallery restoran. Desi Dahlan yang kami tunjuk sebagai bendahara selama perjalanan segera memesan makanan.

Aku memesan masakan Padang karena nanti kalau sudah di Australia aku bakalan susah untuk menemui makanan Padang. Sementara itu Pak Elfan mengontak biro perjalanan untuk segera bisa mengantarkan tiket, passport dan visa kami. Lagi- lagi aku meminta Inhendri Abbas untuk menjepret wajahku melalui kamera phonecell. Seperti biasa bahwa aku segera mengupload foto dan berita dimana saja berada pada wall FB-ku agar teman- teman juga mengikuti kisah perjalananku ke Australia.

―Wow…hidangan kesukaanku, nasi pake asam pedas ikan tongkol dan juga ada goreng terong dan goreng petai campur cabe muda‖. Aku selalu terbiasa untuk memilih hidangan seafood/ ikan laut dari pada goreng ayam atau daging sapi, karena kadar kolesterol ikan lau lebih rendah dan berarti lebih sehat. Berapa harga satu porsi ?
―Di restaurant di komplek bandara ini, harga makanan kadang kala bukan menurut porsi atau ukuran piring namun per item. Misalnya harga satu piring nasi, sekeping ayam dan sekeping gulai ikan‖. Demikian penjelasan Desi Dahlan. Masakan Padang memang selalu cocok pada lidahku dan juga pada lidah banyak orang. Itulah hebatnya restaurant Padang ada di mana- mana di nusantara ini. Malah juga merambah ke berbagai manca negara, aku berharap bisamenemui restoran Padang di Australia.

Aku menghabiskan semua makananku, aku tidak terbiasa menyisakan makanan- itu namanya mubazir dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Malah pada berbagai restaurant di Singapura juga ditulis di dindingnya ―Love food and hate waste- jangan mubazir makanan‖. Sementara orang- orang kita kalau makan, di restaurant dan juga di tempat pesta, terkesan punya prilaku suka mubazir.

―Mereka ambil segala lauk pauk dan menumpuk ke atas piring, kemudian hanya memakannya sedikit dan menyisakannya. Pergi dan membiarkan makanan banyak mubazir. Aku bersedih melihat perilaku bangsa kita ini saat makan pada setiap pesta perkawinan…mereka gemar mubazir…menyisakan banyak makanan. Perilaku ini mutlak untuk dibuang‖. Aku berfikir bahwa ini termasuk gaya hidup yang dibuat-buat dan menganggap cara demikianlah yang menggambarkan sebagai orang berbudaya- pada hal itu adalah salah besar. Ada kesan bahwa orang kita merasa gembira kalau ia dikatakan berprilaku boros atau tidak hemat dalam hidup.

Menunggu selalu terasa membosankan. Aku mengatasi rasa bosa dengan cara berbincang- bincang dengan Desi- temanku dan ia juga seorang guru berprestasi nomor 1 tingkat nasional yang juga mengajar di Batusangkar- aku bertanya mengapa ia memilih karir sebagai guru. Aku tidak mau mengganggu Inhendri yang sering menelpon ke kampungnya, karena anaknya tadi pagi agak rewel saat ia berangkat.

―Oh ya, saat di SMA saya juga ingin melanjutkan kuliah ke fakultas kedokteran, namun saat itu belum ada program bidik misi, bea siswa- ya semacam program kuliah dengan biaya murah. Apalagi ayah saya hanya seorang PNS biasa dan ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga. Sementara itu di sekolah saya punya guru biologi yang begitu smart dan saya mengidolakannya, akhirnya saya memutuskan diri masuk ke jurusan biologi dan menjadi guru biologi saja, ya itu ceritanya‖. Kata Desi Dahlan

―Hurry up….hurry up..!!‖ Kataku begitu melihat Pak Elfan segera berdiri. Itu sebagai isyarat bahwa tiket, paspor dan visa kami sudah siap diproses. Seorang pria datang, namanya Niman. Niman adalah seorang pegawai dari biro perjalanan dan juga bertugas untuk urusan AC atau arrival check in, kali ini ia bertugas untuk membantu urusan penerbangan kami ke Australia.

Terasa lapar lagi, Desi memutuskan untuk pergi mencari toko makanan lagi dan aku menemaninya untuk mencari makanan spesifik dari Indonesia buat Pak Ismet nanti di Australia. Makanan spesifik asli Minang atau Padang tidak ada, kecuali makanan spesifik dari Jawa Barat. Itu oke jugalah dan kami pilih yang punya rasa pedas. Selanjutnya kami bergegas menuju terminal 2 di Cengkareng ini untuk tujuan keberangkatan internasional, kami harus mencari taxi untuk menuju ke sana.

Di terminal 2, Niman memberi masing-masing kami satu tiket, visa dan passport. Sebagai penggantinya kami harus membayar biaya penerbangan Jakarta- Sydney- Melbourne- Sydney dan kembali ke Jakarta sebanyak Rp. 45 Juta. Uang tunai yang dipegang Desi tentu saja sudah menyusut dari dalam dompetnya.

Kami selalu tidak lupa dengan urusan ibadah dan kami melakukan sholat jamak magrib dan isya pada sebuah praying room (musholla). Jadi aku nanti tidak perlu lagi shalat isya dalam pesawat Qantas. Aku memperhatikan bahwa orang- orang yang sholat pada musholla itu sangat taat, sholatnya khusuk dan pribadi mereka terlihat tenang dan juga wajah mereka bercahaya. Beda dengan suasana di luar musholla, orang banyak yang lalu lalang namun saling tidak mengenal satu sama lain.

Niman menjelaskan pada kami mana yang visa dan mana yang kertas buat mengambil tiket rute Jakarta- Sydney dan Melbourne. Ia juga memberi beberapa penjelasan tambahan dan nasehat- nasehat kecil yang bakalan berguna selama perjalanan kami. Oh ya…kami ingin membeli dollar. Ia kemudian mengantarkan kami ke counter money changer dan ia kemudian say good bye pada kami.

Kami bermaksud menukarkan mata uang Rupiah ke dalam Dollar Australia, namun jumlah mata uang dollar Australia ternyata terbatas. Pegawai money changer mengupayakan bantuan, ia membawa lembaran pecahan ratusan ribu rupiah dan pergi ke counter temannya yang terletak agak jauh. Lama juga kami menunggu pegawai tersebut. Tiba- tiba kami mendengar suara pengumuman dari speaker di terminal ini.

―Attention please to all passengers of Qantas Flight from Jakarta to Sydney to be on board‖. Itu berarti bahwa process boarding ke dalam pesawat Qantas internasional mulai bergerak.

―Oh my God…..‖. Kami mulai jadi gusar, pegawai money changer yang sengaja mau menukarkan mata uang kami dan juga membawa uang kami belum juga muncul.

―Kalau anda tidak memiliki cukup mata uang Australia maka….kembalikan uang kami‖. Kami mulai mendesak. Petugas money changer juga tampak panik karena ia juga tidak memiliki mata uang rupiah.

―Oke mbak, kalau anda tidak punya mata uang Dollar Australia dan juga uang kami/ Rupiah, maka kami ambil saja Dollar Amerika sejumlah uang kami….‖ Aku mengusulkan sebuah alternative maka temanku dan juga pegawai money changer menyetujuinya. Ia menyerahkan sejumlah Dollar Amerika dan kami buru- buru menghitungnya, setelah itu berangkat dari sana.

―Oke…bagus, dari pada kita ketinggalan peswat dan kehilangan uang Rp. 45 Juta. Jangan- jangan gara- gara mengharap uang yang jumlahnya lebih kecil, kami kita kehilangan yang lebih besar yaitu tiket dan biaya perjalanan ke Australia yang cukup mahal buat ukuran kantong kami‖. Kata ku pada Inhedri dan Desi sambil berjalan. Kami buru- buru melangkah menuju Gate D.6.

―Where is gate D.6…?‖ Tanyaku pada salah seorang security dan ia menunjukan arah menuju halte keberangkatan. Orang-orang di wilayah sana juga meresponku dalam bahasa Inggris, barangkali mereka menduga mungkin aku warga Singapore atau dari Vietnam. Sebab wajahku juga mirip dengan wajah warga negara tersebut. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya kami sampai pada counter pemeriksaan koper dan tas dengan metal detector ya..untuk mendeteksi kalau- kalau ada benda yang mencurigakan dalam tas ku seperti pistol atau granat, ha ..ha ha..ha.

Nafas kami masih tersengal- sengal setelah berjalan kencang dan kami memutuskan untuk duduk pada ruang tunggu. Di sana aku melihat mayoritas warga berkulit putih. Mereka membawa family/ anak anak mereka berlibur- pulang liburan di Indonesia, mungkin di Yogyakarta, Bali dan lombok. Bedanya mereka terlihat sedikit berusia matang sementara anak- anak mereka terlihat masih kecil- kecil. Ya aku tahu bahwa mereka cukup berani untuk menikah dan punya anak setelah merasa cukup mapan di atas usia 30-an, malah mendekati usia 40-an. Kalau warga kita terlihat punya anak dalam usia yang lebih muda- di atas usia 20-an.

―All passengers of Qantas Flight proceed on board…!!‖. Instruksi suara pramugari membuat penumpang begerak menuju pesawat. Tentu saja yang masuk lebih dulu adalah penumpang business class dan setelah itu baru economy class yang dimulai dengan nomor 51.

Aku menempati bangku nomor 51.F. Aku sedikit kaget, kalau dalam peswat Lion Air dari Padang, semua pramugari terlihat sangat muda dan cantik- cantik. Namun flight attendat pesawat Qantas ini terlihat sudah berumur tua- seperti nenek- nenek saja. Akhirnya pesawat bergerak menuju landasan pacu dan setelah aman membubung menuju langit yang penuh bintang. Pesawat ku terbang menuju arah timur.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.