Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 22)

oleh -16 views
Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 22)

PENGALAMAN PENDIDIKAN DI MELBOURNE- AUSTRALIA

PENDIDIKAN DI VICTORIA

Sebetulnya tujuan utama kami untuk datang ke Melbourne- Australia adalah untuk memperoleh pengalaman sebanyak mungkin tentang pendidikan dan juga tentang kebudayaan. Maka kunjungan kami ke Departemen Pendidikan Victoria dan ke sekolah atau universitas adalah momen yang sangat berharga untuk dicatat dengan tinta emas. Kami sangat berterima kasih pada Pak Ismet dan ibu Rebeccca yang selalu memandu kami dalam menelusuri pengalaman indah tentang pendidikan di kota ini.

Pak Ismet danIbu Rebecca datang lagi tepat waktu, pukul 08.00 pagi ke apartemen kami. Kami segera naik ke dalam mobilnya. Kali ini aku merasa mengantuk namun aku enggan untuk memejamkan buat tidur walau untuk sekejap. Soalnya aku jauh-jauh datang ke Melbourne dengan biaya yang sangat mahal, tentu aku merasa rugi kalau mataku tidak aku manfaatkan buat mengamati hal- hal yang unik dan indah di Australia dan aku akan mengumpulkan pengalaman hidup sebanyak mungkin.

―Maka sepanjang perjalanan aku melemparkan pandangan ke arah luar jendela mobil. Tentu ada banyak hal menarik yang dapat ditangkap oleh mata‖.

Bukan maksudku menjelek-jelekan kampung sendiri bahwa kalau di tanah air traffic light seolah-olah hanya untuk dipatuhi oleh pengemudi sepeda motor dan juga oleh kendaraan mobil dan tidak perlu dipatuhi oleh pengendara sepeda. Pengendara sepeda boleh menerobos jalan raya kapan saja. Namun di Melbourne (di Australia) pengendera sepeda juga harus mematuhi traffic light- mereka juga harus berhenti bila lampu merah menyala dan boleh bergerak bila lampu hijau menyala. Berarti aplikasi lalu-lintas kita perlu memaju disiplin lalu-lintas di Australia.

Sejak kedatangan ku di Melbourne aku sering bertanya-tanya sendirian tentang mengapa semua transport di Australia hanya dimonopoli oleh kendaraan mobil dan aku sangat jarang melihat sepeda motor. Pertanyaanku dijawab oleh Pak Ismet bahwa itu karena sepeda motor lebih sulit untuk diperoleh. Harga sepeda motor lebih mahal dari pada sebuah mobil bekas yang masih layak pakai. Untuk diingat bahwa sepeda motor di Australia semua berukuran besar, karena digunakan untuk menempuh jarak yang jauh.

Saking begitu banyaknya jumlah mobil maka aku sering melihat usaha pendududuk seperti pencucian mobil pake tangan ―hand wash car‖ dengan biaya 16 Aus $ atau setara dengan Rp. 176.000. Ya setarah dengan harga satu porsi sarapan pagi.

Kemudian juga aku perhatikan bahwa dalam menunggu transportasi publik juga harus bersabar. Sarana transportasi publik adalah mobil umum dan juga tram. Aku juga melihat bahwa pada tiap perempatan jalan ada traffic light tertulis ―stop here on red arrow‖. Jadi selain ada traffic light juga ada pesan tertulis yang harus dipatuhi.
Mobil kami kemudian berhenti di pinggir taman kota yang terletak di samping kantor Department of Education Victoria. Di pinggir taman kami melihat ada bangunan kecil dari batu bata. Itu adalah rumah bersejarah yaitu rumahnya Captain James Cook.

James Cook adalah orang Eropa pertama yang menemukan benua selatan- yaitu benua Australia. Dengan demikian ia adalah penemu benua Australia. Bahan rumah James Cook semuanya dibawa dari England. Batubatanya dilepas dan diberi nomor, dibawa dengan kapal dari England dan kemudian disusun atau dibangun lagi di kota Melbourne. Bentuk rumah yang aku lihat di sini ya seperti rumahnya saat di England, nah seperti itulah negara besar dalam menghargai sejarah bangsanya.

Kami semua keluar mobil dan kami berjalan. Kami tertinggal semua oleh langkah Pak Ismet dan Ibu Rebecca. Pada hal Pak Ismet sendiri tidak tinggi tubunya. Namun langkahnya cepat. Ya demikianlah sikap dan cara berjalan orang- orang cerdas. Kalau suatu bangsa mau maju maka orang-orangnya musti bersikap bersemangat termasuk dalam berjalan.

Kami menuju entrance kantor Pendidikan Victoria. Akhirnya kami memasuki sebuah ruang yang sudah didesain sengaja untuk kami. Pada mulanya aku berfikir kalau-kalau ada meeting dengan jumlah peserta mungkin 30 atau 40 orang. Maklum sebuah meeting internasional. Ternyata setelah kami lihat bahwa kami hanya memasuki sebuah ruangan kecil yang hanya diisi oleh 10 orang dan kami yang datang hanya berlima saja, yaitu aku, Desi, Inhendri,

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.