Amuk Selat: Menggali Kesejatian Malayu dalam Karya Puisi

oleh -244 views
Penyair Riki Utomi, Selatpanjang, Riau. (Foto: Dinas Kebudayaan Provinsi Riau)

TRAVESIA.CO.ID – Penyair asal Selatpanjang, Riau, Riki Utomi, merilis buku puisi terbarunya berjudul ‘Amuk Selat’ (Penerbit Salmah Publishing, 2020).

Buku itu berisikan puisi dengan tema besar Melayu. Menurut Riki, Segala bentuk perihal ke-Melayu-an menjadi penggalian ide yang dikembangkan dalam penulisannya.

“Dunia Melayu, bagi saya, memiliki pesona yang memikat. Ini juga karena saya memang tinggal di daerah Melayu, baik di Kepulauan Riau ataupun Riau sendiri. Segala hal ingatan dan rasa menjadi “tali penarik” ide-ide itu, bagaimana pesona laut, teluk, tanjung, atau nuansa benda seperti sampan, biduk, jaring, jala, lukah, tempuling, dan lain-lain mampu memberi efek dalam “mengolah rasa” ketika menuliskan menjadi puisi,” ujar Riki Utomi kepada TRAVESIA.co.id., Selasa (7/1/2020).

Menurut Riki, setiap penulis puisi (penyair) yang tinggal di dalam lingkungan kultur Melayu memiliki perbendaharaan dan mengolah dalam nuansa serupa, namun pengolahan itu dari tiap penulis tetaplah berbeda; oleh gaya, cara bertutur, rima, penempatan diksi, penggalian diksi, sampai menggali puisi itu menjadi penuh makna dari keutuhan puisi itu sendiri setelah jadi, hingga puisi hadir memberi kesan bagi pembaca, hingga kaya akan multi tafsir.

‘Amuk Selat’, Buku Puisi terbaru karya Riki Utomi. (Foto: IST.)

“Amuk Selat, sebagai judul utama dan juga puisi-puisi di dalamnya adalah upaya menggali bentuk frasa. Diksi “amuk” berkonotasi pada tindakan keras dari tekad yang telah memuncak; bahwa mesti telah ada sesuatu yang ‘mencekau-cekau’ pikiran dan ‘berkelit-kelindan’ di hati untuk segera dituntaskan—dalam konteks kadar psikologis adalah hal penentuan terakhir yang menjadi puncak yang tak dapat dihindar lagi. Tentu sebelumnya, diawali dari sikap-sikap yang bijak dalam mencoba mengambil tindakan, dengan pertimbangan kedewasaan. Selain itu memang terinspirasi dari “amukan” Hang Jebat dalam istana yang terkenal dalam cerita hikayat Hang Tuah. Di mana Jebat telah sampai kepada puncak yang mencoba melawan ‘kediktatoran’ kuasa kaum elit yang tak mampu berpijak pada pikiran bijak,” paparnya.

Sedang diksi “selat”, ungkap Riki, memiliki kesan denotatif sebagai bentuk letak perairan yang berada di antara pulau-pulau; laut di antara pulau-pulau; sela, celah yang menjadi sumber inspirasi untuk menuliskan puisi. Sedang hal yang berpeluang ke arah konotatifnya dapat menjadi “sebuah jalan panjang untuk mencapai sesuatu; harapan, tekad, impian”.

Melewati “selat” itu—dengan tekad yang bulat “amuk” itu, si aku lirik mencoba merealisasikan segala harapannya untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Bahwa “kita memang perlu demikian” kata si Aku lirik, ditambahnya lagi, “kita memang perlu ‘amuk’ dalam menggapai sesuatu” sebab dengan “amuk” itu akan menjadikan kekuatan yang mampu mendobrak rapuhnya hati.

“Adapun hal ini, saya masih teringat sewaktu SMA pernah membaca cerpen berjudul “Pagi Jumat Bersama ‘Amuk’” di Majalah Sastra HORISON karya Taufik Ikram Jamil. Mengisahkan tentang suatu kampung (Melayu) yang warga kampung itu merasa risau setengah mati karena telah kehilangan kata “amuk”. Akibatnya penduduk kampung itu seperti “tak bernyawa” dan “teramat lesa” dalam gerak dan gundah dalam beraktivitas,” kenang Riki.

Dia menambahkan, “amuk” bukan lagi menjadi sebatas kata, namun telah bersebati menjadi “prinsip” yang tertanam dalam lubuk hati. Bahwa ada hal yang tak dapat disepelekan dari kata itu hingga penduduk kampung pun bertekad untuk mencari dan mengembalikan kata itu.

Selain itu, pengaruh inspirasi dari sewaktu ia kuliah bahwa pernah mengkaji karya-karya Sutardji Calzoum Bachri dengan buku puisi teranyarnya “O Amuk Kapak”. Lagi-lagi kata “amuk” menjadi sesuatu yang melekat hingga segala perihal proses penciptaan puisi itu bermuara pada diksi “amuk” namun oleh penggalian dari sudutpandang penulis yang berbeda dari suatu ide yang didapat.

“Selain puisi Amuk Selat 1, 2, dan 3, puisi lainnya bermuara pada tema kemelayuan. Seputaran hal yang menjadi objek seperti “harapan seorang nelayan dalam melaut”, “semangat hidup puak Melayu”, “adat resam yang patut dijaga”, juga lain-lainnya adalah terinspirasi dari hal-hal kecil tentang kehidupan keseharian masyarakat Melayu pesisir dan kepulauan,” ujarnya.

Penulis senada yang dikatakan Sapardi Djoko Damono “bilang begini, maksudnya begitu,” bahwa puisi itu menyampaikan dengan hal-hal yang begini, namun memiliki maksud yang begitu. (*/han/travesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.