Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 30)

oleh -57 views
Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 30)

DEAKIN UNIVERSITY

Kampus Deakin University

Kali ini kami tidak punya janji dengan Pak Ismet. Pagi ini dia pergi ke dokter gigi, namun kami akan bertemu di kampus Deakin, dimana Pak Ismet bekerja sebagai Dekan pada Fakultas sastra dan Bahasa, sementara Ibu Rebecca sebagai ketua jurusan pada jurusan Bahasa Indonesia dan sekaligus sebagai Ahli Bahasa Indonesia di sini.
Kami melintas dari depan apartement Punthill, apartemen kami yang baru juga bernama punthill dan juga terletak di perempatan jalan. Kami kemudian menyusuri jalan dan palang nama kampus Deakin terlihat dengan jelas dari kejauhan. Kadang- kadang kami berfoto- foto di jalanan untuk membuat foto memori.

Jam 11.00 pagi kami sudah berada di komplek universitas Deakin dan kami menemukan kantor ibu Dr Rebecca pada sebuah blok di nomor D.3.07. Ibu Rebecca belum sampai di kantornya dan kami diminta oleh seorang dosen yg sedang bekerja di kantor sebelah untuk menunggu sebentar pada sebuah ruang pustaka kecil. Memang benar bahwa ibu beki datang dan kami diajak untuk melihat- lihat ruangnya.

Deakin Universitas adalah suatu Universitas Publik Australian dengan hampir 40,000 jumlah mahasiswanya dalam 2010. Universitas ini menerima lebih dari 600 juta AusD untuk biaya operasional pendidikan dan harga asset 1.3 milyar USD. Universitas ini menerima lebih dari 35 USD untuk dana riset dalam tahun 2009 dan mempunyai 835 mahasiswa riset. Universitas ini mempunyai kampus di kota Geelong, Melbourne, dan Warrnambool, Victoria. Universitas diberi nama menurut pemimpin Pergerakan Federasi Australian dan Perdana Menteri Australia yang kedua yaitu Deakin Alfred.

Jurusan Bahasa Indonesia di Deakin Universitas

Saat kami di pandu oleh ibu Rebbeca keliling komplek kampus Universitas Deakin, kami juga diajak masuk ke sebuah kelas mirip studio- ya sebuah kelas laboratorium. Kelasnya bisa menampung sekitar lebih dari seratus mahasiswa, dilengkapi oleh media audio visual. Percsakapan mahasiswa dan dosen bisa di rekam.

Ibu Rebbeca cukup mahir dalam mengoperasikannya dan kami mendengar model percakapan dalam bahasa Indonesia melalui suara penutur Australia. Saat itu ibu Rebbeca juga dibantu oleh dua orang Australia keturunan India dalam mengoperasikan fasilitas audio visual yang lain.

Kami rasa bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di Universitas Deakin sudah sangat maju. Malah untuk membuat kualitas penguasaan bahasa Indonesia maka Universitas Deakin membuat kegiatan bersama dengan universitas di Indonesia, termasuk dengan UNP (universitas alumni bagiku). Aku pernah mengintip dan mendengar bagaimana bule- bule belajar Bahasa Indonesia di UNP- Universitas Negeri Padang.

Di Ruang Sidang Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang (UNP), sembilan orang mahasiswa Universitas Deakin Australia tengah belajar bersama seorang dosen. Saat seorang lelaki berperawakan tinggi dan berkulit putih masuk ke dalam kelas, seorang mahasiswa berkulit putih lainnya tengah berdiri di depan kelas dengan memegang sebuah spidol. Dia berusaha menggambar pancuran dan kotak kecil yang ditulisi Soap. Lalu, Ia bertanya pada rekan-rekannya, ―Sedang apa?‖ Setelah hening sebentar, satu diantara mereka menjawab, ―Mandi,‖. Ketika gambar yang dibuat mampu ditebak oleh temannya, Ia kembali ke tempat duduk. Seseorang yang lain maju ke depan kelas dan melakukan hal yang sama.

Meskipun berasal dari negara yang berbahasa Inggris, namun tidak terdengar sekalipun kata-kata dalam bahasa asing. Mereka murni berbahasa Indonesia. Selama empat hari dalam seminggu mereka belajar Intensif Bahasa Indonesia bersama dosen-dosen dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka adalah Michael Filius; Breanna Funston; Erin Mc‘ Lean; Eloise Clarke; Clover Hart; Stephanie Cowdy; Jessica Capkin; Aimee Mc‘ Leahlian dan Alexandra Everard. Mahasiswa yang berjumlah sembilan orang ini berlatar belakang studi yang beragam, ada yang berasal dari jurusan kesehatan (Health science), ekonomi (finance) dan lain sebaginya.

Di Australia, mereka berasal dari latar belakang jurusan yang berbeda. Ada yang dari jurusan Kesehatan, Ekonomi, dan sebagainya. Namun, di UNP mereka dipertemukan dalam sebuah kelas mata kuliah Umum Bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh peraturan kampus setempat yang memberi pilihan kepada mahasiswa untuk belajar di Negara asli pemilik bahasa tersebut atau menambah waktu belajar satu tahun lagi untuk belajar bahasa indonesia yang diajar oleh dosen di sana. ―Akhirnya, mereka memilih untuk belajar di sini‖.

Tidak hanya belajar Bahasa Indonesia, para bule dari Tanah Kangguru itu juga mempunyai tiga kegiatan lainnya, yaitu; kegiatan budaya sehari-hari di mana mereka harus belajar bagaimana cara membuat janur, menari tarian tradisional dan mengenal batik Indonesia. Selanjutnya, kegiatan studi lapangan dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu, seperti; Padang Ekspres, Dinas Pariwisata, Puskesmas dan Home Industri. Setelah berkunjung ke tempat tersebut, mereka juga diharuskan membuat laporan sepanjang 1000 kata dalam bahasa Indonesia. ―Hal ini berlaku untuk semua tempat yang kami kunjungi,‖ ujar Stephani.

Program ini bernama Kursus Intesif Bahasa Indonesia bagi Mahasiswa Deakin University, sedangkan di Australia sendiri program ini disebut . Program ini telah terlaksana selama beberapa tahun belakangan. Tiap tahun, selalu ada mahasiswa dari Deakin University yang belajar bahasa indonesia di UNP. ―Dua bulan rasanya mungkin belum cukup untuk mempelajari bahasa Indonesia dan juga budayanya tapi kami harus segera kembali ke australia untuk melanjutkan study,‖

Acara perpisahan yang bertemakan malam kesenian tersebut menyajikan atraksi seni dari kesembilan bule itu dengan menampilkan berbagai macam budaya indonesia khusus sumatera barat yang telah dipelajarinya selama kuliah di UNP, seperti tari persambahan minangkabau, berpidato dalam bahasa indonesia, menayangkan video yang berisikan semua kegiatan mereka. Kemudian acara ditutup oleh Rektor UNP.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.