Menjelang Senja, Bertukar Pikir Tentang Buku Ala FLP Sumbar

oleh -100 views
Diskusi buku bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatra Barat. (Foto: IST.)

TRAVESIA.CO.ID – Forum Lingkar Pena (FLP) Sumbar kembali menggelar diskusi rutin. Kali ini memanfaatkan waktu sore sepulang beraktivitas.

Rabu, 15 Januari 2020, di pelataran taman Masjid Raya Sumbar, para peminat literasi bertukar pikiran tentang buku. Diskusi perdana FLP di tahun ini mengambil topik “Buku Pertama yang Kubaca di Tahun 2020.”

Salah seorang peserta, Yova Yolanda yang juga seorang psikolog bercerita tentang buku komunikasi yang telah dibacanya. Dia menuturkan bahwa sebagian kita sering salah kaprah dalam percakapan basa-basi (small talk) untuk memulai keakraban.

Bukannya membangun atmosfer menyenangkan, kita malah menyakiti perasaan lawan bicara dengan pertanyaan, “Kamu kapan nikah? Udah kerja-belum? Tinggalnya di rumah sendiri atau rumah mertua? Udah wisuda? dan lain-lain….”

“Kata orang sih kepo, tapi kepo yang seperti itu kan menjengkelkan?” ujarnya.

Penulis buku itu menganjurkan agar lebih baik bila kita memulai pembicaraan dengan kalimat basa-basi yang positif. Jika dibawakan ke konteks keseharian, misalnya, “Wajahmu semakin bersih, udah kerja yang sesuai harapan ya? Kayaknya nenteng buku terus, udah dekat nih jadwal kompre… Kota Padang semakin cantik dan rapi ya, kamu tinggal di mana? dan lain-lain.”

Peserta yang lain, Maulidan Rahman Siregar—pengelola media online Janang.id—mengungkapkan pengalaman membacanya yang unik.

Maulidan butuh waktu panjang untuk membaca dan perlu pengkondisian diri untuk menikmati pengalaman membaca. Ada buku yang dapat dibacanya terperinci hingga halaman terakhir, ada juga yang baru beberapa halaman sudah membuatnya patah semangat dan beralih ke judul yang lain. “Aku tidak menemukan apa-apa,” katanya.

Pemandu diskusi, Ragdi F. Daye yang baru menerbitkan buku kumpulan puisi “Esok yang Selalu Kemarin” membenarkan, “Kita akan menemukan apa yang kita cari. Termasuk saat membaca. Jika kita mencari informasi, yang akan kita dapatkan informasi. Namun, jika yang ingin kita temukan adalah makna, pemahaman, inspirasi, atau sekadar sudut pandang baru, kita bisa mendapatkan banyak nilai kekayaan batiniah.”

Diskusi terus berlangsung hangat diselingi mencicipi manis buah manggis dan rambutan yang dibawa peserta.

Lismomon Nata bercerita tentang buku dan aktivitasnya sebagai penyuluh kependudukan. Elly Delfia, Dosen Ilmu Bahasa FIB Unand yang baru balik dari tugas mengajar di Korea membagi pengalaman membaca dan menulis buku “Kupu-Kupu Banda Mua”.

Amel, mahasiswa pertanian dengan agak malu-malu menceritakan kegemarannya membaca puisi meski berkutat di bidang agroindustri. Wiwit, sarjana hukum syariah membawa buku tentang sejarah kerajaan Jawa yang sangat tebal yang menurutnya menarik karena berisi informasi tentang kehidupan masa lalu.

Sementara Fitri Wede yang sedang merintis usaha penerbitan berbagi tentang pengalamannya menulis dan menerbitkan novel. Ditutup Alizar Tanjung yang berbagi pengalaman mengembangkan bisnis penerbitan dan toko buku online.

Banyak manfaat yang dapat dipetik dari aktivitas membaca buku, yakni memperluas cakrawala, inspirasi, dan mencegah kepikunan. Juga menambah teman; terbukti dari diskusi kali ini, meski peserta berasal dari bermacam suku, latar keilmuan, pekerjaan, kampung halaman, dan selera, namun dapat berkumpul dalam diskusi yang hangat dan seru.

Ketika azan magrib dari Masjid Raya Sumbar berkumandang, pertemuan pun diakhiri dengan janji untuk berjumpa lagi dua pekan yang akan datang dengan topik yang tak kalah menarik. (flp Sumbar/han/travesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.