Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 33)

oleh -55 views
Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 33)

PULANG KE INDONESIA

Sweet Memory Melbourne

Ada pertemuan maka ada perpisahan, ada kedatangan tentu ada kepergian. Itulah yang terjadi dengan kami bertiga terhadap kotamelbourne….eh maksudnya terhadap Bapak Ismet dan Ibu Rebecca. Agaknya sore ini adalah kali terakhir kami duduk dalam mobil jeepnya Pak Ismet. Setelah selesai melihat- melihat suasana kampus Deakin dan juga makan perpisahan atau farewell party eating pada sebuah restoran Melayu di dekat kampus Deakin yang lain, maka kami diatarkan ke apartemen Punt Hill.

Pak Ismet mengatakan bahwa ia dan bu Beki tidak punya waktu untuk mengantarkan kami ke Airport Melbourne buat menuju transit ke airport Sydney. Cukup lama Pak Ismet berbincang bincang dengan kami sore tadi. Ia juga memberi kami arahan tentang beberapahal: cara memesan tiket untuk balik ke Indonesia, cara mengatur bagasi dari Melbourne melintasi beberapakali transit hingga bagasi sampai di Jakarta.

Aku sendiri sore tadi tidak banyak ngomong kecuali banyak mendengar dan mendengar lebih seksama. Kemudian pikiran adalah untuk menunggu SMS atau telephone dari pak Dadang bahwa ia akan menjemput kami untuk diajak melihat penguin di Teluk Melbourne atau di Pelabuhan Melbourne.

Usai ngobrol dengan Pak Ismet, kami pamitan dengan mereka berdua. Kemudian kami juga melunasi pembayaran sewa apartemen. Aku membiarkan Desi yang mengurus karena ini berguna untuk melatih dan membuat bahasa Inggrisnnya lebih Lancar. Aku melihat bahwa Bahasa Inggris Desi sudah cukup bagus. Namun Inhendri Abbas masih punya problem dengan Bahasa Inggrisnya, ia merasa tertinggal dalam berkomunikasi dan berjanji untuk belajar keras dalam menguasai bahasa Inggris. Ia juga punya rencana untuk mengajak anaknya ke rumahku (andai sudah berada di Indonesia) untuk mendalami bahasa Inggris.

Akhirnya kami keatas. Kami juga menunggu kedatangan Pak Dadang dan Uni Yetti Zainil untuk membawa kami. Sementara itu pikiranku melayang jauh dan aku merasa sedih juga untuk berpisah dengan kota Melbourne, karena aku tidak tahu entah kapan kembali ke sini lagi. Aku mencari tahu sekilas tentang Melbourne dan Australia. Info ini tentu kuharapkan bermanfaat bagi orang-orang yang ingin pergi ke Australia:

Australia adalah masyarakat yang egaliter. Ini tidak berarti bahwa setiap orang adalah sama atau semua orang yang memiliki kekayaan yang sama atau properti. Tetapi ini berarti bahwa tidak ada perbedaan kelas formal atau mengakar kuat di masyarakat Australia, karena ada di beberapa negara lain. Ini juga berarti bahwa dengan kerja keras dan komitmen, orang tanpa koneksi tingkat tinggi atau patron yang berpengaruh dapat mewujudkan ambisi mereka.

Tingkat pengangguran relatif rendah (pada Desember 2007 itu adalah 4,3 persen) dan pendapatan per kapita bruto adalah sekitar 39. 000 AusD. Semua orang setara di bawah hukum di Australia dan semua warga Australia memiliki hak untuk dihormati dan diperlakukan secara adil. Mengingat sifat beragam Australia masa kini, beberapa orang mempertanyakan apakah ada yang ―khas‖ di Australia. Ya tentu saja ada.

Sebagai contoh, beberapa orang melihat orang Australia sebagai orang egaliter, ada yang menganggap orang Australia sebagai taat hukum dan bahkan konformis. Lebih dari 75 persen penduduk Australia hidup dengan gaya hidup kosmopolitan di pusat-pusat perkotaan, terutama di kota-kota besar di sepanjang pantai. Orang lain melihat Australia sebagai orang yang hidup di ―negeri yang beruntung‖ yang mencintai liburan, olah raga (baik sebagai penonton dan sebagai peserta), Bahkan orang Australia adalah orang-orang yang suka kerja keras (jam kerja terpanjang di negara maju).

Semua orang di Australia didorong untuk belajar bahasa Inggris, yang merupakan bahasa nasional dan pemersatu elemen penting dari masyarakat Australia. Namun, bahasa lain selain bahasa Inggris juga dihargai. Bahkan, lebih dari 15 persen warga Australia berbicara bahasa lain selain bahasa Inggris di rumah. Bahasa yang paling banyak digunakan setelah bahasa Inggris adalah Italia, Yunani, Kanton, Arab, Vietnam dan Mandarin. Australia berbicara lebih dari 200 bahasa, termasuk bahasa Pribumi Australia.

Australia mencintai olah raga mereka, baik bermain dan menontonnya. Kemudian fakta kunci bahwa lebih dari 6,5 juta migran telah menetap di Australia sejak tahun 1945. Bahasa Inggris adalah bahasa nasional, tetapi bahasa lain dinilai. Australia didominasi oleh agama Kristen tetapi orang bebas untuk mempraktekkan agama apapun yang mereka pilih.

Sekitar 88 persen warga Australia pergi sedikitnya ke sebuah peristiwa budaya setiap tahunnya. Lebih dari 11 juta warga Australia yang berusia 15 tahun atau lebih mengambil bagian dalam olahraga atau kegiatan fisik lainnya. Australia memiliki salah satu masakan yang paling beragam di dunia namun tidak memiliki hidangan nasional.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.