Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 34)

oleh -37 views
Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 34)

Ingin Melihat Penguin

Pukul 5.00 sore waktu Melbourne mobil Pak Dadang datang. Hari masih terang karena dalam musin panas siang lebih lama. Malah pukul 8.00 atau 9.00 malam masih terang benderang. Aku tidak tahu apakah waktu maghrib buat sholat sudah datang, tapi mungkin belum. Kami tidak mau berlambat- lambat khawatir kalau Pak Dadang kelamaan menunggu.

Segera kami berangkat dan kami tidak tahu mau kemana akan pergi, namun ia ingin mengajak kami ke Teluk Melbourne- tempat wisata yang menarik di Australia bagian selatan. Pak Dadang kurang tahu jalan yang aman dan lebih dekat menuju sana. Ia dibantu oleh istrinya- Uni Yetti Zaini- untuk mensetting GPS (Geo Position Stationer) pada phonecellnya dari alamat apartemen menuju teluk Melbourne. Suara yang keluar dari GPS memandu Pak Dadang dalam menyetir mobil. Aku tidak banyak ngomong kecuali hanya melemparkan pandangan ke luar jendela.

Namun Pak Dadang mau singgah sebentar di rumahnya. Ya kami harus singgah karena kunjungan dan persahabatan tidak lengkap kalau kami tidak saling berkunjung. Pak Dadang dan Uni Yetti sudah datang ke apartemen kami yang lama dan sempat memberi kami oleh-oleh berupa KFC (Kentucky Fried Chicken) dan juga ke apartemen kami yang sekarang. Dalam perjalan kami bincang- bincang dan aku lebih banyak mendengar pengalaman Pak Dadang.

―Perbedaan si kaya dan si miskin di tidak begitu lebar di Melbourne- malah di negara Australia. Malah gaji buruh terdidik bisa lebih besar dari orang kantoran. Kerja dan aturan kerja di Australia lebih jelas. Di sini tidak ada kebijakan yang bersifat kong-ka-lingkong (nepotisme). Semua berdasarkan skill dan bakat/ kemampuan. Anak- anak sekolah (mahasiswa) bisa kerja part time bila liburan datang. Iklan tentang kerja sampingan ada di kampus- kampus. Upah atau pendapatan mereka bisa mencapai 1.000 Aus perminggu atau 4.000 AusD perbulan‖. Kata Pak Dadang membuka pembicaraannya.

―Pajak mobil baru atau lama sama saja. SEmua mobil harus sehat tidak memberi polusi. Mobil tua ya juga ada….tidak boleh berasap. Kalau ada mobil yang sudah berasap maka akan datang polisi mengambil mobil tersebut dan segera dihancurkan. Jalan raya disini sangat bersih
dan tidak berdebu. Jalan raya divacum dengan mobil vacum cleaner‖. Kata Uni Yetti Zainil menambahkan. Kemudian pak dadang bertanya:

―Apa ada yang membawa daging….,pisang, .buah- buahan?‖

―Ya..ada ..Desi membawa dendeng kering dari kampung‖. Kata Desi.

― Oh…itu dilarang untuk dibawa masuk ke Australia‖.

―Tapi kami sudah lewat saat dideklare‖

―Biasanya juga declare menggunakan penciuman anjing pelacak. Tidak terdeteksi…..berarti beruntung. Andai terdeteksi persoalannya akan cukup ribet. Bagaimana dengan mengisi dokumen kedatangan ? Tanya Pak Dadang.

― Kami meniru pengisiannya seperti yang dilakukan oleh Marjohan. Kami memverifikasi yang jawabannya banyak NO saja‘

―Desi selamat karena ketidak tahuan….‖ Kata Pak Dadang.
Mobil Pak Dadang menuju halaman rumahnya dan segera berhenti. Kami masuk ke rumah yang sederhana untuk ukuran Australia, nan cukup bagus menurut ukuran rumah di Padang. Rumah tersebut kalau dikontrak ya perbulannya sekitar 1.000 AusD atau Rp. 10 juta.

Aku bermain dengan seorang bocah kecil, anak temannya Uni Zainil- warga Malaysia- yang lagi menyelesaikan program Post-Graduate di Melbourne. Aku dan bocah tersebut ngobrol dalam bahasa Inggris. Bocah tersebut asyik bereksplorasi dengan boneka-boneka mobilan- hewan- tanaman yang jumlahnya sangat banyak, juga adacrayon buat mewarna dan juga film kartoon yang ditayangan dari channel khusus buat anak. Aku memperhatikan bentuk tong sampah di rumah itu.

―Pemerintah memberi kita 3 tong sampah dengan 3 warna- colour red (for daily rubbish/kichnen rubbish), green (for leaves and natural rubbish) dan yellow (for recycle rubbish seperti plastik, kertas dan logam)‖. Kata Uni Yetti Zainil.

―Pembelajaran di Australia semuanya dibikin mudah, Belajar bahasa Inggris di negeri kita kok dibikin sulit dari awal…..jadi akhirnya tidak menarik dan anak anak akan jadi bosan dan cabut‖ Kata Pak Dadang. Ya tugas kami sebagai guru untuk mempromosikan bagaimana belajar itu mudah, indah dan tidak beban. Ya itu nama pembelajaran yang brrsifat Pakem- Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan.

Kami tidak lama di rumah Pak Dadang, kami juga menolak untuk makan di sana. Namun kami tidak menolak diberi coklat buat dibawa pulang ke Indonesia. Pak Dadang dan keponakannya (Zaki) bekerja di pabrik coklat milik Jerman. Gajinya lumayan untuk menghidupi dirinya dan dua anaknya yang sekolah di Melbourne. Sementara untuk biaya kuliah Uni Yetti Zainil dan akomodasi/ perumahan…itu ditanggung oleh beasiswa Uni Yetti Zainil.

Aku melihat banyak hal menarik sepanjang jalan. Seperti rumah- rumah yang banyak menggunakan batu bata- tanpa diplester dan terlihat tetap cantik. Batu bata rumah tersebut beda dengan batubata di kampungku. Batu bata Indonesia kalau kena hujan airnya merembes ke dalam. Aku juga melihat tong sampah di aussi besar-besar. Kami terus jalan jalan ke Monash University.

― Di Monash nanti kitananti bisa berfoto- foto. Di australia….orang tua, anak anak dan disable (orang cacat) dihormati oleh pengendara mobil‖. Kata Pak Dadang.

Rambu rambu lalu lintas di kota Melbourne selalu dimodifikasi sejelas mungkin. Misal pada tempat menyeberang ada gambar kaki melangkah dan juga pakai kata- kata, jadi tidak hanya lambang melulu.
Kami menuju pom bensin dan terlihat sepi tanpa ada pelayannya, ya prosedur di pom bensin…isi bensin….ambil sendiri….bayar sendiri….dan diawasi hanya oleh kamera. Tidak ada orang yang berani berbuat curang, orang Australia umumnya taat dengan hukum. Semua mobil tercatat, kalau ada sopir yang curang bakal mudah untuk diusut.

―Sayang saat ini masih tanggal 20 Desember, ya tanggal 26 Desember ada acara boxing day….atau hari obral barang dengan harga murah pada semua toko. Pada hari itu semua kantor, sekolah dan bisnis diliburkan…ya sebagai public boxing day. Melborne cup….adalah hari pacu kuda….orang orang banyak yang berjudi….saat itu keluar banyak fashion‖ Kata Pak Dadang, ia punya banyak tahu tentang seluk beluk Melbourne.

Kami tidak lama di komplek kampus Monash University, hanya sekedar berfoto- foto. Kemudian terus melaju. Aku tidak melihat ada iklan tempat bimbel (bimbingan belajar) di Melbourne karena belajar itu sudah cukup diurus oleh sekolah dan orang tua saja. Yang banyak aku lihat ya…health fitness centre. Kami menuju pantai Melbourne…Port Melbourne.

Pemandangan menakjubkan di senja ini. Orang orang berselancar dan ditarik oleh layang laying. Pantai- pantai diberi pagar dan jadi tak semua pantai boleh diinjak. Di pinggir jalan menuju pelabuhan teluk Melbourne aku berhenti di toilet umum. Toilet umum dibersihkan 3 kali sehari in summer dan 2 kali sehari in winter ya ditulis di pada dinding depan. Ternyata di Melbourne untuk menandakan orang kaya bukan karena ia punya mobil tapi karena punya boat.

Kami melangkah menelusuri dermaga Melbourne Port. Angin selatan bertiup amat dingin menusuk tulang. Wah kondisi keuangan kami mulai menipis dan aku diterpa oleh bad-mood, namun sekarang hatiku gembira…gembira seperti seorang bocah. Kami melangkah terus ke ujung dermaga….di sana ada tmpukan batu….atau batu karang. Ya tempat koloni penguin….senja itu penguin enggan keluar.

Aku berhenti ngomong dalam bahasa Inggris, karena aku dengar banyak orang ngomong dalam bahasa mereka…bahasa Vietnam, India, China, Korea, Jepang, Skandinavia. Aku lihat banyak Jenis Manusia. Wah aku harus bangga ngobrol dalam bahasa Minang dan juga Bahasa Indonesia.

―I love bahasa Minang..I love Bahasa Indonesia‖. Aku yakin orang- orang juga senang atau bengong mendengar bahasa kami. Hari mulai gelap…wah penguin enggan keluar…yak arena orang kelewat banyak mengintip mereka. Aku menyalakan senter kecil dan hanya bisa melihat kepala dan paruh penguin yang mirip dengan paruh dan kepala bebek.

Setelah rasa penasaran kami dengan penguin terobati kami segera balik menuju luar dermaga dan sebaiknya terus pulang ke apartemen. Kami sangat appreciate pada Pak dadang dan Uni Yetti Zaini. Mereka punya hati emas…mereka berhati emas untuk mengantari kami menkmati pelabuhan Melbourne. Kebaikan mereka tak bisa diukur dengan uang.

Malam itu kami diantar ke apartemen. Perasaan kami haru biru. Masih merasa senang berada di Melbourne namun ingin segera balik ke Batusangkar agar bisa berjumpa dengan keluarga dan juga merasa salut dan hormat atas kebaikan Pak Dadang, Uni Yetti Zainil, Anak-anak mereka dan juga keponakannya. Ya kami berpamita dan bersalaman dengan jabat tangan yang sangat erat.

Kami mengucapkan ribuan terima kasi dan malah jutaan terima kasih. Kami berjanji untuk memberi tahu kalau sudah berada kembali di Jakarta. Mobil mereka segera meninggalkan apartemen kami, kami saling melambaikan tangan dan sama- sama berucap ―good bye…good bye…terima kasih atas kebaikan mu berdua- Pak dadang dan Uni yeti Zainil.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.