Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 35)

oleh -57 views
Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 35)

PENGALAMAN TERAKHIR

Bagaimana Menggunakan Fasiltas Bandara?

Kami minta bantuan receptionist apartemen Punthill untuk memesan taxi dengan kebarangkan dari hotel jam 06.00 pagi. Pada hal pada jam tersebut kantor receptionist apartement masih tutup. Buka kantor baru jam 08. 00 pagi.
“No problem” Katanya. Kalau di Indonesia pemesanan taxi per-telefon. Namun di Melbourne sudah serba online. Ia akhirnya memberi kami bukti sudah memesan taxi dan besok pagi persis jam 6.00 taxi sudah datang. Kami kemudian pergi ke kamar apartemen di lantai atas.

Malam itu kami bersiap siap, mem-packing barang barang lagi. Merapikan peralatan dapur dan menyiapkan sedikit makanan buat subuh. Menjelang tidur aku mensetting jam agar terbangun jam 4.00 pagi (dini hari). Agar kami bisa bersiap siap untuk berangkat. Tidak aku saja, Inhedri Abbas- juga memasang setting jam untuk bangun lebih cepat.
Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Fikiran separoh bangun dan separoh tidur. Aku khwatir ketiduran dan khawatir tidak mendengar alarm jam buat bangun. Aku tidak tahu apakah dua orang teman ku bisa tidur pulas apa tidak.

Akhirnya aku bangun jam 4.00 pagi dan segera mandi pakai shower panas. Kemudian sholat subuh- meski aku sendiri tidak tahun pukul berapa subuh masuk untuk kota Melbourne. Kemudian aku dengan teman ku juga bangun- mandi- berpakaian dan sholat.

Cepat saja rasanya waktu merangkak. Sudah lewat jam 5.00 pagi aku dan juga temanku tidak punya selera buat sarapan. Kami memutuskan untuk turun ke lantai dasar untuk menunggu taxi. Kami memeriksa kamar apartemen buat terakhir kali, memeriksa apakah masih ada barang- bsarang kecil kami yang tertinggal- dan yang penting lagi passport, visa dan dompet kami.

Jam 6.00 pagi kurang lima belas menit. Kami harus keluar. Kunci apartemen kami letakkan di atas meja receptionist. Aku memberi warning buat dua temanku:

―Desi….Inhendri….apakah sudah siap untuk keluar, apakah masih butuh toilet, di luar tidak ada toilet. Kalau kita sudah keluar maka nanti kita tidak bisa masuk lagi ke ruang receptionist‖. Setelah memastikan semuanya beres, ya kami menghela bagasi ke luar. Dan siap menunggu kedatangan taxi.

Pagi terasa dingin dan sepi. Jalan raya juga sepi. Beberapa taxi juga lalu lalang, namun belum ada yang mengarah ke depan apartemen punthill. Aku berkata pada teman kalau- kalau sopir taxi lupa dan tidak tahu dengan nomor HP dan juga alamat kita. Ya kami masih khawatir, namun kemudian sebuah taxi putih masuk menuju kea rah kami.
“Good morning….How are you ?” Sapa sopir taxi berkulit putih.

―Thank you, anda datang sangat tepat waktu dan kami sudah menunggu taxi anda‖. Aku membantu sopir memasukan barang- barang ke dalam box belakang taxi dan tak lama setelah itu taxi melaju.

Kami saling bertukar cerita dengan sopir taxi dalam bahasa Inggris. Aku duduk di depan dengan alas an aku sebagai guide dan bahasa Inggrisku sangat bagus disbanding dua temanku yang lain. Sopir tersebut juga dahulunya sebagai immigrant keturunan Eropa- aku lupa nama negaranya, namun bukan England. Setelah beberapa menit kami sampai di Bandar udara Melbourne dan ia mengantarkan kami ke gate bagian transfer menuju Sydney.
“How much we must pay..?”

―79 dollar…‖ Jawabnya. Oh berarti lebih sedikit dari Rp. 800. Ribu. Kami menyerahkan dollar dan kemudian saling bersalaman dengan akrabnya. Kami mengikuti langkah penumpang lain menuju ruangan counter pelabuhan. Ruangan terminalnya sangat megah. Namun kami merasa bengong kemana mau pergi.

―Beda ya dengan bandara di Padang atau di Jakarta. Di sini tidak terlihat counternya dan juga tidak ada petugas counter‖ Yang terlihat hanya banyak mesin mungkin itu namanya counter machine. Digunakan untuk memesan tiket dan juga untuk mengabil kertas gulungan buat ditempel pada bagasi.

Kami bertiga juga mencoba untuk menggunakan counter machine. Kami sudah mencoba mengisi formulir lewat layar monitor pada counter machine…wah gagal lagi. Desi melihat sekeliling dan ada seorang muslimah berkulit putih- memakai jilbab.

“Assalamualaikum…..hello….I am new person in Melbourne. I don’t understand how to you use this machine”
“Oke let me help you”. Kata muslimah tersebut. Kami menyerahkan kertas tiket dan ia mengetik lewat layar monitor. Ia punya waktu yang terbatas karena ia harus terbang ke kota lain di Australia. Tetapi okelah untuk selanjutnya kami juga bisa meniru apa yang ia lakukan.

Muslimah di Australia di Australia- wanita berkulit putih yang aku temui di bandara- wahanya terlihat lebih tenang. Cara berbicara dan cara berjalannya terlihat lebih lembut. Kontra dengan penampilan orang lain yang tampil hedon. Barangkali ini hanyalah penilaian aku pribadi- namun temanku Desi dan Inhendri juga melihat fenomena yang sama. Orang Australia sangat beruntung menjadi muslim karena pribadinya tenang dan alam mereka terlihat damai dan juga indah.

―Mister Jo ..aku bisa mengetiknya….ini sudah keluar kertas- kertas. Tetapi buat apa ya ―. Tanya Desi. Meskin kami bisa menggunakan counter machine namun masih bengong untuk proses selanjutnya.
Aku melihat kalau- kalau ada petugas bandara. Akhirnya aku melihat seorang pria berkulit putih bertubuh tinggi, gagah dan ramah. Aku tahu bahwa ia bisa membantu kami karena pada kantong baju seragamnya tergantung konkarde.

―Good morning.. I am new person in Melbourne, I want to fly to indonrsia but I don’t know how to use counter machine”. Pria itu tersenyum kemudian memandu kami untuk berjalan menemui operator counter yang bisa membantu kami secara manual.

Kami menyerahkan kertas tiket dan menunggu perintah demi perintah dari wanita tersebut. Pelayanannya sangat bagus. Orang canti, rapi, ramah dan cerdas. Kami menerima 3 tiket dan kami menyerahkan bagasi yang besar untuk dibawa ke bagian counter bagasi pesawat. Ia menulis petunjuk selanjutnya- misalnya kemana kami pergi lagi bila sudah beradadi bandara Sydney nanti.

―Thank you for your kindness service….‖ Kata ku dan kami melangkah menuju gate 13. Kami berjalan dengan langkah agak cepat menuju gate peswat Qantas. Sebetulnya di ruangan itu dilengkapi dengan WiFi, tapi aku tidak begitu memperhatikan. Fikiranku bahwa kami harus bisa terbang dengan pesawat Qantas jam 09.25.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.