Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 36)

oleh -62 views
Melbourne Memang Dahsyat (Bagian 36)

Hampir Ditinggal oleh Pesawat di Melbourne

Kami bertiga menunggu pesawat di sebuah gate dan penumpang kulit putih lainnya sudah berdatangan. Aku selalu mengamati nomor peswatku QF 20 lewat monitor. Aku juga ikut mengambil koran koran Australia tanpa harus membayarnya- membayar dengan sukarela. Aku mendengar dengan jelas penunda keberangkatan menuju Sydney. Ada dua kali penundaan mula- mula selama 20 menit, kemudian penundaan selama 45 menit.

Cukup lama juga menunggu penundaan. Untung aku juga bisa menggunakan WiFi buatmengakses FaceBook dan mengupload foto. Aku cukup asyik hingga aku tidak begitu mendengar suara pelayan dari speaker. Yang jelas aku masih melihat ada kode QF 20. Namun tiba tiba kode itu menghilang. Aku panic namun Desi dan Inhendri biasa biasa saja, Mungkin mereka tidak tahu mengapa aku panic:

―Ya aku takut ketinggalan pesawat dan kalau didenda seperti di bandara Sukarno Hatta bisa dikenai registrasi ulang seharga 50 %. Untuk ukuran dollar cukup mahal. Aku segera bertanya pada petugas.

―Exuse me…this is my ticket, but I don’t see flight QF 20 on monitor. I must fly to Sydneyand Jakarta‖.
―Oh…you flight changing……‖ Aku memberikan tiket dan juga tiket btemanku. Kami memperoleh tiket baru dengan kode QF 22. Dan kami harus pergi ke gate 1 yang lokasi cukup jauh. Aku mengajak Inhendri dan Dessi untuk ke gate. Desi cukup mengerti namun Inhendri tampak agak bengong…, aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak kecuali kami menyambar tangkai bagasinya dan menyeretnya menuju gate 1.

―Pak Inhendri mau tinggal di Melbourne…silahkan…mau terbang ayo ikut kami‖. Dia juga bangkit dan kami berlarian menuju gate 1 untuk mendapatkan peswat QF 22. Cukup lelah dan nafas juga terengah dibuatnya. Kami bettanya juga pada beberapa orang untuk menuju gate 1. Akhirnya kami sampai. Dan terlihat semua penumpang sudah masuk hanya tinggal beberapa orang lagi dan termasuk kami bertiga.

―Untung kita lihat tadi monitor…untuk kita segera ke sini…..untung kita masih belum terlambat…..‖ Ucapku. Pokoknya banyak rasa beruntung saat itu. Kami dipersilahkan masuk dan duduk pada bangku yang terpisah karena kami bertiga adalah penumpang titipan dari pesawat QF 20 yang tertunda untuk terbang.

―Andai kita ditinggal pesawat di bandara Australia bagaimana ya ?‖ Aku bertanya sendirian dalam hati dan pernah aku tanyakan pada pak Dadang. Dan ia menjawab bahwa biasanya pihak penerbangan Qantas memberi pelayanan yang prima. Ia tidak mau mentelantarkan kita. Paling kurang tiket kita akan diganti atau dicarikan penerbangan pengganti, jadi berbeda dengan pelayanan yang mungkin terjadi di tanah air kita. Tentu saja aku lega dengan jawaban itu, namun aku tetap tidak mau ketinggalan pesawat.

Setelah hampir dua jam peswat mendarat di bandara internasional Sydney. Kami mengikuti petunjuk yang diberikan pelayan di terminar airport Melbourne tadi. Kami terus ke gate kedatangan untuk mengambil bagasi namun kami tidak menemukan bagasi kami. Setelah ditanya ke petugas bahwabagasi kami sudah forward menuju bandara Jakarta lewat Qantas yang sama jadi don‘t worry…!

―Ya,,,,ketika kita keluar atau masuk ke suatu negara kita harus melewati immigrasi. Saat yang paling malas adalah berhadapan dengan para petugas imigrasi yang terkadang memasang muka “sangar atau wajah serius”.

Waktu menuju ke imigrasi kami bertiga berpencar- pencar, Inhendri aku lihat di kiri dan Desi sudah duluan namun ia terlihat jaleng dengan perempuan yang sudah sering pulang pergi ke Australia. Desi saat itu memakai jilbab warna gelap dan Desi badannya tergolong tinggi untuk ukuran rata- rata orang Indonesia. Dari kejauhan aku lihat dan juga wanita yang bareng dia ditahan petugas. Kok bisa begitu ?

―Ketika bagian saya, saya dapat petugas yang terlihat agak santai, pas dia melihat muka asli dan foto saya di passport. Dia bilang muka saya berbeda jauh, ga mirip lagi dengan paspor….saya pikir dia mungkin becanda, ehhh ternyata dia memberi saya lewat dari imigrasi tapi pasport saya di kasih ke petugas yang lainnya untuk menyakinkan muka saya bahwa sama dengan muka saya dalam photo saya di pasport. Saya berfikir bahwa ini karena saya memakai jilbab hitam dan saya dicurigai sebagai teroris wanita yang mungkin bisa meledakkan pesawat….ya ampun‖ Kata desi menjelaskan.

―Setelah beberapa saat 1 petugas lainnya agak ragu kembal dan mencurigai saya dan perempuan yang juga bareng saya. Petugas menggelah tas dan bagasi saya, menggeledah pakaian saya dan mengintoregasi saya. Saya juga balik marah pada mereka sehingga saya berkata : what are you doing with me…I am not terrorist ?‖. Kata Desi agak emosional.

Wah ada ada saja pengalaman ini. Kami akhirnya sampai ke ruang tunggu untuk naik pesawat Qantas tujuan Jakarta. Kali ini orang orang yang banyak berada dalam terminal itu adalah orang orang Indonesia dan juga beberapa bule yang ingin berlibur ke Indonesia seperti ke Bali, Lombok, pulau Jawa, Sumatera dan sebagainya. Bagiku pikiranku sudah melayang jauh ke Indonesia , namun itulah sweet memoryku dan sweet memiry kami yang terakhir, ―Good bye Melbourne…Good bye Sydney…Good bye Australia‖.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.