Resensi Buku: Selendang Ibu Perdana Menteri Serupa Peta

oleh -93 views
Resensi Buku: Selendang Ibu Perdana Menteri Serupa Peta

Oleh Okta Piliang

Pesan apa yang akan dihadirkan oleh sebuah buku puisi, pola apa, dan akan banyak timbul pertanyaan lainnya–tentu bagi buku puisi yang beranjak tidak hanya semata imajinasi, tetapi ragam pendekatan, mungkin riset, data, dan settingan luar negeri (kolonialisme) lalu diikatkan dengan empirik, kota lahir, sejarah bangsa. Barangkali ada keidealnya, pencatatan yang tepat, namun dalam puisi, hal-hal yang ditangkap oleh mata, rasa, kesan tidak semata yang tampak, akan tetapi puisi bisa saja diambil dari berbagai hal, sudut pandang dan hal itu kembali kepada kerja kreatif. Feni Efendi telah melakukan hal itu semua, bahkan ada upaya-upaya yang dicoba untuk keluar dari ketabuan dalam ruang bangun puisi. Puisi Naratif, namun terkesan prosa. Pola tuang yang demikian, tentu akan sedikit beresiko meletakan bunyi, rima, metafora ataupun struktur yang lain dalam bentuk taatnya sebuah puisi ditulis. Namun ini kembali kepada kerja kratif dan sejauh mana usaha-usaha dilakukan dalam pencaharian. Banyaknya perulangan, pengulangan diksi dari awal bait ke bait selanjutnya yang terkesan adalah penekanan, bisa saja itu adalah bentuk satir yang ingin disampaikan Feni supaya lekat dalam ingatan si pembaca.

Juga sasaran tidak semata sejarah, menangkap peristiwa-peristiwa walaupun terkesan kecil, sepele namun jika dihubungkan dengan peristiwa di tempat lain (tanah lahir) dengan keterkaitan historis kita dapat membacanya dan memaknainya dengan cara yang lain.  Tokoh yang diambil adalah tokoh bangsa Mr. Syarifuddin, yang dikaitkan dengan Ibu Perdana Menteri, yang pada ketika itu, memakai selendang. Feminisme berhasil dibawa dengan berbagai idiom juga diksi yang diangkat dekat dengan kaum perempuan, dengan kebiasaan perempuan; dapur, bersolek, menjahit, juga diksi-diksi yang lebih dominan, kentang, cokelat, roti, dan keju. Namun cakupan Feni tidak persoalan itu semata. Puisi-puisi banyak berbicara persoalan lain, yang berangkat dari penelitian dan pendekatan elemen lain yang ada pada peristiwa Pemerintahan Republik Indonesia. Radio, juga watak atau gaya hidup kaum bumi putra. Kenakalan Feni bermain, menelisik ranah yang kita anggap sepele. Hasil dari pencatatan, penelitian inilah, yang berhasil Feni tulis dalam bentuk puisi yang barangkali luput bagi sebagian penyair.

Keterikatan kita sebagai pembaca tidak bisa lepas jikalau membaca puisi-puisi dalam buku ini, antara judul ke judul, ada benang merah yang selalu mengingkat, membuat kita mesti tuntas di setiap halamannya, kadang kita perlu ruang, perlu jeda untuk mengurai buhul sejarah, ritual, dialektika, emprik kita sebagai generasi bangsa, yang tidak lepas dari peran sejarah yang kadang dikaburkan, kadang berusaha dihilangkan. Akhirnya, puisi tetaplah sebuah puisi yang akan terus ditulis, yang akan terus ditelisik, dimaknai, terus digali dari waktu ke waktu.

  • Judul Buku: Selendang Ibu Perdana Menteri
  • Karya: Feni Efendi
  • Penerbit: JBS
  • Tata Letak: Feni Efendi
  • Desain Sampul: Ijot Goblin
  • Foto Sampul: Ijot Goblin
  • Model Foto: Kintan Baydury Gresmon
  • Cetakan Pertama, Oktober 2019 xvi+ 80 hlm:13×19cm
  • ISBN: 978-623-90672-74

 

Okta Piliang bergiat di Komunitas Seni Intro, Komunitas Puisi Tanah Rawa Payakumbuh. Menulis esai, puisi, pernah dibukukan dalam beberapa antologi bersama, terbit di media massa, lahir di Payakumbuh 1 Oktober.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.